21 Apr

Usaha Mikro yang Bankable

01. kredit bagi pelaku usaha mikro

Indonesia adalah surganya usaha mikro. Betapa tidak, ribuan bahkan jutaan pelaku usaha mikro di negeri ini tumbuh subur seolah tidak peduli dengan kondisi makro ekonomi yang selalu dibayang-bayangi skenario global. Penulis mengistilahkan bisnis mikro adalah bisnis yang tak ada matinya dan bisnis yang tahan banting. Sejarah mencatat, guncangan ekonomi Asia di era 98 yang berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara global, tidak berdampak langsung terhadap para pelaku usaha mikro. Begitu juga krisis ekonomi pada dekade berikutnya di tahun 2008, pelaku usaha mikro tetap bertahan bahkan tidak sedikit dari mereka yang beranjak ke level usaha kecil dan menengah (Small Middle Enterprises). Mereka tetap berdagang di lapak-lapak dan kios-kios pasar tradisional. Kita masih tetap bisa temui eksistensi mereka disetiap sudut kampung dan sekitaran pangkalan ojek.

Sayangnya ketahanan bisnis mikro selalu dibayang-bayangi oleh tantangan laten, mulai dari kompetensi pengelolaan dan managemen bisnis, keterbatasan modal serta minimnya akses mendapatkan modal dari Bank dan Lembaga Keuangan. Banyaknya program-program Pemerintah dalam menumbuhkan usaha mikro di Indonesia, terutama kebutuhan modal, tidak dibarengi dengan access knowledge. Yakni bagaimana pemahaman mendapatkan akses modal selanjutnya, terutama setelah program suntikan modal dari pemerintah rampung? Hal ini penulis rasa penting bagaimana mendidik para pelaku usaha mikro memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Bank dan Lembaga Keuangan secara umum. Di sisi lain, penting juga memberikan akses kepada para pelaku usaha mikro untuk memiliki beragam pilihan dan alternatif produk-produk kredit/pinjaman dari Bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik usaha debitur. Minimnya pemahaman terhadap dua hal di atas akan menjadi masalah bagi para pelaku usaha mikro dalam meningkatkan kapasitas usahanya.

Logika sederhanya begini, pertumbuhan usaha selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan sales/penjualan. Pertumbuhan penjualan selalu berbanding lurus dengan dua hal, yakni kebutuhan stok barang dan kebutuhan permintaan/buyer. Kebutuhan stok dan kebutuhan buyer relatif dipengaruhi oleh kemampuan pelaku usaha dalam melakukan management cashflow. Dan ujungnya, management cashflow selalu mendasarkan pada teori seberapa kuat arus kas mengimbangi pertumbuhan penjualan (sales growth). Bahkan dalam teori klasik akuntansi menyatakan harta sama dengan hutang ditambah modal. Teori ini membenarkan bahwa peningkatan harta atau aktiva selalu diikuti oleh peningkatan passiva yang terdiri dari hutang dan modal.

Logika dan teori diatas menunjukkan betapa terdapat korelasi yang sangat erat antara pertumbuhan usaha dengan akses dan ketersediaan modal. Menurut riset yang pernah penulis lakukan (Analisis Potensi Bisnis Pasar, 2008), terdapat 92% pelaku usaha mikro mengalami keterbatasan modal serta keterbatasan akses untuk mendapatkan modal. Sisanya hanya 8% saja yang tidak, dimana mereka mendapatkan kecukupan modal dari saudara dan keluarga. Biasanya usaha mereka telah cukup matang karena usaha yang telah turun temurun dari generasi sebelumnya.

Dalam artikel ini, penulis akan memberikan sedikit gambaran bagaimana para pelaku usaha mikro meningkatkan kapasitas knowledge dan manajemen usahanya, sehingga setidak-tidaknya memiliki standar yang layak dan sesuai dengan klasifikasi calon debitur Bank. Menurut penulis ada 5 hal yang harus mulai dibenahi oleh para pelaku usaha mikro. Yakni pencatatan keuangan,  tata kelola produk, managemen stok, managemen hutang dan managemen piutang.

Pertama, Pencatatan Keuangan. Masalah pencatatan keuangan hampir dialami oleh semua pelaku usaha mikro. Dimana mereka cenderung mengabaikan pentingnya melakukan pencatatan keuangan. Secara financial tercampur, mereka tidak memisahkan antara kebutuhan modal kerja dengan kebutuhan rumah tangga. Tidak teridentifikasi berapa laba riil yang didapatkan dari penjualan untuk menopang modal dan menopang kebutuhan rumah tangga. Tidak jarang problem yang dialami oleh para pelaku usaha mikro adalah selalu seputar kekurangan modal. Dalam teori bisnis modern, yang disebut profit/laba riil adalah setelah dikurangi oleh seluruh kebutuhan stok barang serta beban/kewajiban usaha kepada pihak ketiga serta pajak bila ada. Nett profit inilah yang kemudian akan dibagi-bagi kedalam kebutuhan lainnya, misalnya kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kebutuhan investasi dan lain-lain. Bank akan mendasarkan analisa kemampuan bayar calon debiturnya dengan melihat seberapa kuat laba mejadi sumber pembayaran (source of payment) kewajiban angsuran.

Kedua, Tata Kelola Produk yakni bagaimana para pelaku usaha mikro memiliki kemampuan melakukan seleksi produk dengan kualitas kompetitif. Kemudian penataan display produk yang menarik juga merupakan hal yang selama ini tidak diperhatikan oleh para pelaku usaha mikro. Sementara bagi Bank, kemampuan calon debitur melakukan tata kelola produk serta managemen kemasan menjadi poin penting dalam melakukan analisa kredit, terutama pada aspek kompetensi dan profesionalisme calon debitur.

Ketiga, Managemen Stok. Stok menjadi perangkat penting bagi bank dalam melakukan analisa kredit. Terutama untuk melihat apakah stok yang dimiliki para pelaku usaha mikro sebagai calon debitur layak untuk ditingkatkan atau sebaliknya. Ada beberapa poin penting yang akan dilihat oleh Bank dalam menganalisa stok barang calon debitur, yakni:

1. Apakah stok barang adalah stok produktif (fast moving) atau stok lama yang tidak laku dan telah kadaluarsa? Bank akan melihat kemampuan calon debitur dalam melakukan kejelian memilih stok barang dalam menunjang kebutuhan konsumen/buyer. Pelaku usaha yang tidak kompeten selalu memiliki stok barang mati atau tidak laku dengan volume yang berlebih, sebagai akibat ketidakmampuannya melakukan pembacaan permintaan pasar.

2. Berapa lama stok tersebut bergerak? Biasanya bank mendasarkan dengan satuan hari (day of hands). Semakin lama stok tersebut tidak bergerak, akan semakin menjadi beban terutama resiko penyusutan.

3. Luasan tempat dalam menampung stok. Bank akan melihat apakah calon debitur memiliki luasan tempat yang memadai dalam menampung stok? Bank tidak mungkin membiayai kebutuhan stok bagi calon debitur yang telah mengalami over stok.

Keempat, Manajemen Hutang. Bagi bank melakukan analisis terhadap karakter calon debitur selalu mendasarkan kemauan dan kemampuan bayar calon debitur terhadap seluruh kewajiban yang telah jatuh tempo. Bank akan memulai dengan pengumpulan data yang paling sederhana, biasanya melihat struk pembayaran listrik, air, telepon, pajak bumi dan bangunan, dsb. Baru kemudian melakukan pendataan pembayaran angsuran leasing, arisan, kewajiban bank/koperasi atau lembaga keuangan lainnya. Selain itu adalah kewajiban calon debitur terhadap hutang usaha berupa barang dagangan kepada para suppliernya. Seorang pelaku usaha mikro yang baik menurut bank adalah yang memiliki kemampuan dan kemauan bayar tepat waktu. Artinya tidak mengalami keterlambatan melehi jatuh tempo yang dipersyaratkan.

Bank biasanya melakukan analisa managemen hutang seseorang calon debitur kedalam 4 kwadran, yakni:

– Memiliki kemauan bayar tinggi dan kemampuan bayar yang tinggi

– Memiliki kemauan bayar rendah meskipun kemampuan bayar tinggi

– Memiliki kemauan bayar tinggi akan tetapi kemampuan bayar rendah

– Memiliki kemuan dan kemampuan bayar yang rendah

Bagi bank yang akan dipilih adalah yang kwadran pertama, yakni memiliki kemampuan bayar serta kemauan bayar yang tinggi. Kemampuan bayar mendasarkan kepada kapasitas pelaku usaha mikro terkait dengan profitabilitas usahanya. Sementara kemauan bayar mendasarkan kepada itikad baik calon debitur atas kewajiban yang dimilikinya.

Kelima, Analisa Managemen Piutang. Calon debitur yang memiliki kemampuan managemen piutang salah satu indikatornya adalah loyalitas buyer/pembeli dengan tempo pembayaran yang wajar. Misalnya, untuk usaha sembako dan kebutuhan rumah tangga biasanya para buyer-buyernya memiliki tenor pembayaran antara 1 minggu sd 1 bulan. Calon debitur yang memiliki buyer-buyer dengan tempo pembayaran yang terlalu panjang lebih beresiko dimata bank daripada yang memiliki transaksi cash.

Setelah para pelaku usaha mikro memahami kelima hal tersebut diatas, diharapkan akan mempermudah bagi mereka untuk masuk pada jenjang “bankable”, sehingga mereka akan menjadi calon debitur bank dengan kualitas yang baik. Prinsip Bank adalah menjunjung tinggi trust. Kepecayaan yang telah diberikan oleh Bank kepada para pelaku usaha mikro sebagai debitur harus dijaga dengan melakukan pembayaran kewajiban angsuran atas modal kerja yang telah diberikan. Ingat, karena trust adalah landasan utama bagi Bank, maka wan prestasi kepada Bank adalah langkah buruk bagi para debitur, terlebih apabila tercatat sebagai Daftar Hitam Bank Indonesia. Semoga membantu, maju terus mikro bisnis nusantara.

gambar: unitmikrobisnis

MS Habiby

Praktisi Micro and SME Banking. Bekerja di sebuah Bank Swasta Nasional di Jakarta

2 thoughts on “Usaha Mikro yang Bankable

  1. Avatar

    Dear Mas Habiby,

    Mas habiby, artikel mas habiby cukup menarik. btw mengenai 5 hal yang harus dibenahi diatas apakah mas habiby merancang sendiri atau ada references nya?
    kalau ada mohon di share ya mas, hatur nuhun.

    Best Regards,

    Rifan Jefri S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.