17 Jun

UMKM dan Berkah Ramadhan

Perajin membuat sandal dan sepatu epatu batik untuk di ekspor ke Amerika Serikat, Turki, Malaysia dan Singapura dengan harga Rp250 ribu hingga Rp3 juta di kelurahan Polehan, Malang,

 

Ramadhan 1437H/2016 ini memiliki dampak yang kurang lebih sama terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) seperti tahun-tahun sebelumnya. Lihatlah geliat ekonomi informal di semua penjuru nusantara. Berapa banyak, misalnya, pedagang kolak yang mendadak muncul bak jamur di musim semi? Berapa banyak pedagang makanan ringan khas ifthar (baca: makanan buka puasa) yang berjejer di sudut-sudut keramaian di sekeliling  kita? Berapa banyak pedagang pakaian yang bertaruh peruntungannya mulai di mall dan pusat perbelanjaan mewah hingga di emperan-emperan toko? Bahkan, di pasar Tanah Abang Jakarta atau di Pasar Baru Bandung selalu diwarnai kemacetan akut tiap kali awal lebaran hingga jelang lebaran.

Gambaran di atas hanyalah sekedar deskripsi betapa sektor ekonomi informal ala UMKM menjadi sangat dominan bagi pergerakan ekonomi bangsa sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri. Para pelaku ekonomi mikro dan kecil seakan mendapatkan berkah yang luar biasa tiap kali bulan suci umat Islam ini datang. Kita tidak sedang membicarakan razia dan garukan aparat  keblinger terhadap warung-warung makanan pinggir jalan karena perda-perda yang  lebay itu loh yaa.

Pergerakan ekonomi informal ini bahkan seakan dikonfirmasi oleh bank sentral, di mana Bank Indonesia baru-baru ini mengeluarkan rilis bahwa kebutuhan uang (outflow) selama Ramadhan hingga Lebaran  1437H sebesar Rp 160,4 Trilyun. Angka yang fantastis!

Proyeksi outflow bank sentral tersebut tentu bukan sekedar angka yang tanpa makna. Outflow tersebut secara gamblang memberikan estimasi kasar kepada kita tentang gambaran geliat ekonomi yang menjadi pemantik perputaran uang di masyarakat yang meningkat tajam. Bahkan banyak di antara kita yang sudah mencadangkan kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri jauh-jauh hari. Itu pun biasanya tetap kurang juga khan?

Proyeksi outflow tersebut secara jelas menerangkan kepada kita bahwa kebutuhan konsumsi masyarakat meningkat sepanjang bulan puasa hingga lebaran. Kebutuhan ini diikuti oleh purchasing power masyarakat yang cenderung  meningkat pula. Berbagai skema pendapatan tambahan pun diluncurkan, seperti THR atau gaji ke-13 dll. Ini semua untuk mengejar kebutuhan yang meningkat!

Berita baiknya adalah yang menikmati ceruk ekonomi bulan suci ini adalah sektor UMKM. Sektor ini sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi negeri kita, mengingat dominasinya terhadap dunia usaha di Indonesia, di mana ia menguasai 98% dari total enterprises di negeri yang berpenduduk 250 juta jiwa ini.

Angka-angka di atas sebenarnya menjadi bayan dan ayat bagi kita semua bahwa economic growth bangsa ini lebih ditopang oleh faktor konsumsi domestik. Dan selama Ramadhan dan Idul Fitri domestic consumption kita selalu meningkat dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Dan menjadi bayan atau penjelas juga bagi kita bahwa konsumsi domestik itu kontributor utamanya adalah sektor UMKM.

Pertanyaan yang bisa kita ajukan berikutnya adalah, bagaimanakah membuat UMKM menjadi  powerful bukan hanya saat-saat bulan puasa atau lebaran saja?

Bagaimana membuat usaha mikro kecil dan menengah kita menjadi lebih bertaji dan powerful tidak saja di musim ramadhan dan Idul Fitri?

Sebagaimana diulas ditulisan sebelumnya, UMKM kita lebih diuntungkan karena faktor meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat selama puasa dan lebaran. Artinya, domesctic consumption menjadi kata kunci bagi dunia UMKM kita.

Lalu, bagaimanakah dengan bulan-bulan di luar Ramadhan? Apakah kita harus menunggu hingga daya beli masyarakat membaik untuk usaha mikro, kecil dan menengah bisa tumbuh secara berkelanjutan?

Tentu ini terlalu beresiko dan tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi. Lihatlah, banyak pedagang musiman selama masa ramadhan. Padahal masih ada sebelas bulan lagi setiap tahunnya. Apakah pelaku usaha tersebut (khusunya yang mikro) hanya berhak untuk hidup yang layak hanya satu bulan saja setiap tahunnya? Tentu tidak!

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebenarnya.

Pertama, kita bisa terus meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui berbagai program

pengembangan kapasitas seperti pelatihan menejemen usaha, pelatihan kewirausahaan, pelatihan menejemen keuangan keluarga, pelatihan packaging dan branding produk, pelatihan processing skills dan pelatihan pemasaran serta jejaring rantai pasok (supply chain) yang handal. Pelatihan (atau bisa juga pendampingan) seperti ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Salah satu karakteristik yang sangat khas UMKM setelah susahnya mengakses permodalan adalah sulitnya access to training, information and education baru kemudian akses pemasaran. Dengan melakukan paket pengembangan kapasitas yang terintegrasi, diharapkan satu persoalan yang acapkali dihadapi UMKM bisa terurai dari kusutnya lingkaran setan ketidakberdayaan.

Kedua, UMKM harus mulai berani untuk fokus mempertaruhkan keunggulan komperatif atas produk-produk dan jasa-jasa yang mereka hasilkan. Jaminan mutu dan kualitas yang unggul menjadi prasyarat yang tidak terelakkan lagi di sini. Seringkali keluhan terhadap hasil produksi UMKM di mata konsumen adalah kualitas yang buruk dan terkesan asal-asalan tanpa adanya quality control yang ketat. Ini mulai dari kualitas produk itu sendiri, hingga kemasannya. Sertifikasi dan perijinan tertentu merupakan bagian dari jaminan mutu produk, dimana sertifikasi tertentu akan membantu tingkat keyakinan konsumen atas produk yang akan mereka beli.

Ketiga, UMKM sudah saatnya go beyond localities. Selama ini produk UMKM lebih mengandalkan mekasime  word to mouth dalam pemasarannya. Hal ini akan berimplikasi pada keterbatasan cerukan pasar yang hanya mengandalkan masyarakat sekitar tempat usaha. Media sosial dan era internet of things harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempertajam agresivitas pemasaran dan ekspansi loyal customers di luar lingkungan sekitar. Selain itu, perlu juga memperkuat jejaring pemasaran antar UMKM. Bukan untuk saling bersaing dan cakar-cakaran sehingga mati bersama-sama, melainkan berangkulan dan saling topang sehingga bisa tumbuh dan besar bersama-sama. Apakah mungkin? Negara-negara seperti Tiongkok, Taiwan, dan India sudah membuktikannya: produk UMKM mereka sukses ekspansi bahkan hingga ke negara kita.

Keempat, perlu adanya lingkungan usaha yang mendukung bagi tumbuh dan berkembangkan dunia UMKM kita. Koordinasi multi-stakeholders sangat diperlukan di sini, mulai dari hulu hingga hilir. Dari hulu misalnya, perlu adanya dukungan dari pemerintah untuk kemudahan perijinan dan sertifikasi usaha. Pemerintah juga perlu mendukung berupa program-program pengembangan kapasitas baik melalui pelatihan, pendampingan hingga bantuan peralatan. Pemerintah juga bisa mengajak sektor swasta untuk bahu membahu membantu mereka, termasuk dalam hal permodalan. Program bagus seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) harus dipermudah implementasinya sehingga menjadi accessible dan visible bagi UMKM. KUR hadir sebagian kebijakan dan program, tetapi mandul di tingkat implementasi karena masyaratkan adanya agunan dan usia tertentu dari sebuah usaha. Ini salah satu persoalan yang nyata.

Di sektor hilir, kendala utama yang dihadapi UMKM adalah keterbatasan pasar atas produk-produk mereka. Pemerintah seharusnya bisa memfasilitasi problem klasik dan berabad ini. Salah satunya dengan regulasi yang pro terhadap UMKM. Misalnya, dari 10 produk yang dijual di supermarket, minimarket dan restoran 3 diantaranya haruslah produk UMKM dengan menggunakan brand mereka sendiri. Misalnya. Pemerintah juga bisa memfasilitasi pemasaran produk-produk UMKM dengan membuat peta produksi dan konsumsi. Peta produksi akan memberikan gambaran yang rinci mengenai sisi suplai, yakni seperti apa persebaran komoditas-komoditas yang diproduksi oleh UMKM kita. Sementara itu peta konsumsi akan mempertajam daya jangkauan pandang kita mengenai sisi demand atau permintaan. Sehingga tidak ada alasan lagi UMKM kita hanya fasih dalam produksi tetapi selalu tumpul dalam penetrasi.

Sebagai lembaga swadaya yang memposisikan dirinya sebagai pendampingan pengembangan usaha, BMU Nusantara sangat concern dengan dunia UMKM dan memiliki mimpi besar bukan saja adanya “UMKM naik kelas” yang sering kita dengar, melainkan juga yang kompetitif dan berkelanjutan. Terlebih, saat ini Global Supply Chain dunia sedang bergeser menjadi dikooptasi oleh korporasi dan konglomerasi. Di sini, UMKM akan terancam eksistensinya karena ia hanya akan menjadi bagian dari rantai pasok yang invisible dan tidak memiliki daya tawar atau kontrol sama sekali atas apa yang terjadi di dunia rantai pasok.

BMU Nusantara hadir untuk meningkatkan kapasitas dunia usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui program-program fasilitasi pengembangan usaha. Mari bermitra, mari berusaha, demi kedigdayaan Nusantara!

Tim Pewarta BMU Nusantara

 

Sumber gambar: bisnis.com

admin

Bina Mitra Usaha Nusantara - Business Development Services Provider

3 thoughts on “UMKM dan Berkah Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.