16 Nov

Kemenangan Trump dan UMKM Kita

Minggu lalu, perhatian masyarakat internasional goncang dengan apa yang terjadi pada perpolitikan Amerika Serikat. Secara mengejutkan, Donald Trump yang sedari awal tidak pernah diunggulkan (bahkan di partai pengusungnya sendiri) secara mengejutkan bisa memenangi Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016. Trump adalah sosok yang penuh kontroversi dan acapkali mengeluarkan pernyataan yang tidak enak didengarkan. Trump juga sangat kontroversial dengan sikap anti imigran, pelecehan seksual dan seringkali melontarkan pernyataan yamg rasis dan bahkan anti Islam.

Nah apakah memang ada kaitainnya antara kemenangan Trump dengan masa depan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kita, setidaknya untuk 4 tahun kedepan?

Setidaknya ada dua faktor utama yang justru kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat menjadi berkah bagi dunia UMKM di Indonesia.

Masa sih?

Read More

14 Jul

Urbanisasi Permanen Setelah Mudik Beberapa Hari

Pagelaran akbar ritual tahunan mudik baru saja usai. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuat estimasi total pemudik di Lebaran 2016 ini ada sekira 17,6 juta jiwa. Angka riilnya bisa jadi lebih. Tengoklah kemacetan parah di exit tol Brebes (atau yang belakangan terkenal dengan julukan Brexit) sehingga Cirebon-Brebes yang sebenarnya hanya sepelemparan batu harus ditempuh dengan waktu 8 hingga 10 jam! Bahkan dilaporkan pula ada 12 orang yang wafat selama perjalanan mudik di ruas Tol Jakarta-Brebes, bukan karena kecelakaan atau apa tetapi karena kecapekan dalam perjalanan yang lebih dari 24 jam tanpa perbekalan yang memadai dan kondisi kesehatan yang tidak fit.

Angka dan fakta di atas membuat kita semua tercengang. Betapa, untuk menuntaskan rindu dan memburu maaf, bangsa kita rela mengorbankan semuanya. Bukan saja harta atau waktu yang berharga, nyawa pun mereka sabung di akutnya kemacetan arus mudik lebaran tahun ini. Ini sesuatu yang patut kita banggakan karena kita masih menjadi bangsa yang kuat memegang teguh tradisi. Tradisi adalah formulasi nilai luhur dari kebudayaan sebuah bangsa. Dan kita memilikinya.

Tetapi, kita sekaligus juga prihatin dengan tragedi kemanusiaan yang semestinya bisa diantisipasi oleh Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum. Baiklah. Kita tidak akan membahas tragedi kemacetan parah tersebut. Kita akan membahas sisi lain pasca mudik, yakni fenomenan urbanisasi permanen dari desa atau daerah ke kota-kota besar di Indonesia, utamanya Jakarta. Karena, bukankah urbanisasi ini yang menjadi penyebab kemacetan parah tiap kali arus mudik menjadi tak terelakkan?

Di atas, kami menyebut sebagai urbanisasi permanen karena memang hingga saat ini sepertinya arus migrasi dari desa ke kota tidak bisa dihilangkan. Berbagai kebijakan sudah diterapkan oleh pemerintah kita, terutama pemerintah kota-kota besar. Lihat saja, misalnya, kebijakan konyol Pemprov DKI yang melakukan razia KTP di terminal dan stasiun tiap kali arus balik. Tujuannya untuk membendung tingkat urbanisasi di DKI. Yang tidak ber-KTP DKI dipaksa balik lagi. Betapa negara yang aneh, datang ke wilayah yang masih NKRI harus diperiksa layaknya kita datang ke negara lain dan mendapatkan inspeksi dokumen kewarganegaraan seperti paspor. Bahkan kebijakan yang super aneh ini masih terus berlanjut setelah DKI mengalami pergantian kepemimpinan berkali-kali. Seorang Ahok pun (yang katanya lebih baik dibanding gubernur-gubernur DKI sebelumnya) juga tetap menerapkan razia KTP ini.

025236400-1410505726-p5-567a182605b0bdfd05266fa8

Urbanisasi Permanen Potret Gagalnya Pembangunan

Mestinya arus urbanisasi yang terus berulang tersebut bisa dikurangi bahkan dihentikan sama sekali bilamana ada distribusi kue pembangunan yang merata di seantero negeri. Tetapi yang terjadi justru ekonomi selalu tersentralkan di lokus-lokus perkotaan. Sudah menjadi hukum ekonomi: ada gula ada semut. Terfokusnya kegiatan-kegiatan perekonomian di perkotaan telah menjadikan desa-desa sebagai hamparan kosong yang ditinggalkan penghuninya karena ilusi indah tentang masa depan yang hanya bisa diraih di kota. Tentu tidak salah karena aggapan tersebut memang faktual dan masih relevan hingga kini.

Dengan mulai didistribusikannya dana desa dari kas APBN semenjak tahun lalu, diharapkan bandul pembangunan kedepan akan bergeser pendulumnya, sehingga tidak saja terkonsentrasi di kota tetapi juga bisa merata hingga desa-desa. Anggaran yang jumlahnya lebih dari Rp 1 Milyar per desa tersebut diharapkan bisa menggeliatkan perekonomian desa. Berbagai rencana pun mulai disusun, mulai dari memperbaiki infrastruktur pedesaan hingga membuat kegiatan-kegiatan yang berbasis perekonomian desa.

Desa kita memang sudah teramat lama ditinggalkan. Bukankah ia sudah hadir puluhan bahkan ratusan tahun sebelum republik ini berdiri? Nyatanya ia selalu lekat dengan kemiskinan dan atribusi-atribusi ketertinggalan lainnya.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana membendung arus urbanisasi permanen tersebut?

Urbanisasi akan berhenti begitu saja ketika desa menjadi sentra-sentra ekonomi dan produksi. Urbanisasi akan mati ketika transaksi dan jual-beli berjalan tiada henti di desa-desa.

Penumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi kuncinya. Kenapa UMKM?

Pertama, pedesaan yang utamanya berbasis pertanian, kehutanan, perkebunan, dan perikanan harus semakin digeliatkan perekonomiannya. Harus ada perubahan paradigma. Pertanian dkk jangan lagi ditempatkan sebagai basis produksi bahan mentah saja,  tetapi harus ada nilai tambahan atasnya. Dengan penumbuhan UMKM berbasis pertanian dkk di desa-desa, niscaya pertanian dan UMKM akan saling menopang dan karenanya akan semakin dan saling menguatkan.

Kedua, karakteristik UMKM yang fleksibel akan memudahkan bagi penciptaan lapangan kerja bagi 7 persen angkatan kerja di Indonesia yang masih menganggur. Bandingkan dengan industri besar (padat karya sekalipun) yang mempersyaratkan banyak hal. Mulai dari adanya investor, tenaga kerja yang punya ketrampilan tertentu, iklim sosial yang kondusif, infrastruktur yang bagus dst. UMKM tidak membutuhkan semua hal di atas. Sederhana, ia hanya membutuhkan niat baik semua pihak. Itu saja.

Ketiga, secara spesifik, UMKM juga bisa didesain untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita yang rendah. Pertanian kita akan mati secara perlahan dan meyakinkan bila kondisi yang terjadi saat ini dipertahankan. UMKM bisa diarahkan untuk, misalnya, menemukan invensi dan inovasi teknologi tepat guna yang berbasis lokal dan berbahan lokal. UMKM juga bisa menjadi katalis bagi masyarakat petani untuk menjadikan pertanian mereka sebagaimana layaknya ‘industri’ karena sudah mendapatkan sentuhan manajemen modern dan handal.

Belajar dari Israel

Barangkali Israel merupakan contoh bagus bagi penumbuhan UMKM. Khususnya startup. Di negara kecil yang hanya berpenduduk 8 juta jiwa tersebut, saat ini telah tumbuh lebih dari 4.000 startup dengan total modal ventura 2,5 kali lipat lebih besar ketimbang Amerika Serikat dan 30 kali lipat lebih besar ketimbang Eropa. Bukankah Silicone Valley yang termasyhur soal ekosistem startup ada di AS? Angka empat ribu startup tentu mencengangkan kita semua mengingat kondisi sosial, politik dan keamanan negara tersebut.

Kenapa kami mengajukan contoh ekstrim startup dan lebih ekstrim lagi Israel?

Mungkin 20 atau 30 tahun silam UMKM dianggap sebelah mata oleh dunia. Dunia saat itu silau dengan korporasi besar bahkan perusahaan multinasional.

Belakangan, keadaan seperti hendak di balik. Yakni, dunia dipaksa terbelalak oleh startup-startup IT yang dulunya tidak lebih dari usaha mikro kemudian dalam hitungan beberapa tahun sudah menjadi perusahaan raksasa.

Beberapa tahun sebelumnya pemerintah Israel menyadari posisi mereka: infrastruktur yang tidak memadai dan porak poranda karena perang yang tak berujung. Kemudian yang dilakukan pemerintah adalah menggandeng generasi mudanya untuk ambil bagian dalam pembangunan. Singkat cerita, startup kemudian menjadi pilihan yang dikembangkan oleh negara Jewish tersebut. Berkembangnya startup ini juga tidak bisa dipisahkan dari peran masyarakat diaspora Israel yang tersebar di Amerika hingga Eropa. Melalui skema modal ventura, mereka menginvestasikan dananya untuk startup. Tujuannya tentu bukan untuk startup an sich melainkan untuk kemajuan ekonomi bangsa tersebut, sekaligus mengantisipasi angka pengangguran pada tenaga kerja mudanya.

Lalu, dengan angka pengangguran tenaga kerja muda yang di atas 20% dan jumlah penduduk muda yang 64 juta, kira-kira strategi apakah yang akan dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia?

Kita tak sabar menunggunya!

Tim Pewarta BMU Nusantara

17 Jun

UMKM dan Berkah Ramadhan

Perajin membuat sandal dan sepatu epatu batik untuk di ekspor ke Amerika Serikat, Turki, Malaysia dan Singapura dengan harga Rp250 ribu hingga Rp3 juta di kelurahan Polehan, Malang,

 

Ramadhan 1437H/2016 ini memiliki dampak yang kurang lebih sama terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) seperti tahun-tahun sebelumnya. Lihatlah geliat ekonomi informal di semua penjuru nusantara. Berapa banyak, misalnya, pedagang kolak yang mendadak muncul bak jamur di musim semi? Berapa banyak pedagang makanan ringan khas ifthar (baca: makanan buka puasa) yang berjejer di sudut-sudut keramaian di sekeliling  kita? Berapa banyak pedagang pakaian yang bertaruh peruntungannya mulai di mall dan pusat perbelanjaan mewah hingga di emperan-emperan toko? Bahkan, di pasar Tanah Abang Jakarta atau di Pasar Baru Bandung selalu diwarnai kemacetan akut tiap kali awal lebaran hingga jelang lebaran.

Gambaran di atas hanyalah sekedar deskripsi betapa sektor ekonomi informal ala UMKM menjadi sangat dominan bagi pergerakan ekonomi bangsa sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri. Para pelaku ekonomi mikro dan kecil seakan mendapatkan berkah yang luar biasa tiap kali bulan suci umat Islam ini datang. Kita tidak sedang membicarakan razia dan garukan aparat  keblinger terhadap warung-warung makanan pinggir jalan karena perda-perda yang  lebay itu loh yaa.

Read More