26 Jul

Social Enterprise bagi CSO? Ikuti event ini!

Civil Society Organisations (CSO) seringkali bergantung pada dukungan dari donor (dana hibah) atau donasi sebagai sumber utama pendapatan mereka. Di sisi lain, banyak dari sumber-sumber dana ini yang disalurkan ke Indonesia mulai menurun. CSO harus mencari solusi bagaimana cara untuk dapat menjadi organisasi yang berkelanjutan.

Sejak 2013, British Council telah memulai serangkaian lokakarya untuk berdiskusi dengan banyak CSO tentang bagaimana bertransformasi menjadi usaha sosial sebagai salah satu alternatif solusi bagi CSO untuk tetap bisa berjalan secara berkelanjutan.

Selain itu, selama sembilan tahun terakhir, British Council telah memberikan program pelatihan kepemimpinan sosial bernama Active Citizens, yang mempromosikan dialog antar budaya dan pengembangan sosial berbasis masyarakat. Berdasarkan program ini, British Council bekerja sama dengan Sosial Enterprise Academy, mengembangkan program serupa yang bertujuan untuk mengembangkan dan mendukung usaha sosial, yang dinamakan Active Citizens Social Enterprise.

377BC1F1-D610-4B9E-AD4D-88144BFEA349

 

 

 

 

 

 

 

British Council Indonesia telah menjalankan Active Citizens Social Enterprise (ACSE) sejak Oktober 2015 untuk membantu dan mendukung pemimpin usaha sosial menciptakan dampak sosial, lingkungan dan budaya yang berkelanjutan di seluruh dunia.

Sehubungan dengan hal itu, British Council akan mengadakan Lokakarya Active Citizens Social Enteprise untuk CSO pada tanggal 27-31 Agustus 2019 di Jakarta.

Tujuan Pelatihan

  1. Meningkatkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip utama dari Kewirausahaan Sosial dan perannya dalam pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.
  2. Meningkatkan pemahaman elemen utama dari wirausaha sosial yang berkelanjutan.
  3. Meningkatkan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi wirausaha sosial serta bagaimana merespon tantangan tersebut.
  4. Memperkuat kapasitas untuk berkomunikasi dan membangun hubungan yang kuat dengan yang lain; membangun tim dan memanfaatkan keragaman dan perbedaan untuk mengembangkan usaha sosial mereka.
  5. Meningkatkan kapasitas mereka untuk bersinergi, terlibat dan berkoordinasi antara organisasi mereka di komunitas lokal.
  6. Memahami kewirausahaan sosial sebagai opsi untuk keberlanjutan organisasi dalam mencapai misi sosial mereka dan bisa menerapkan konsep kewirausahaan sosial untuk memastikan organisasi berkelanjutan.

Peserta

Pelatihan ini ditujukan untuk Civil Society Organisation (CSO) yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Tertarik dengan kewirausahaan sosial dan memiliki rencana bagaimana usaha sosial dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan kinerja CSO.
  2. Memiliki komitmen tinggi bersama dengan organisasi/institusi masing-masing untuk menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan sosial dalam organisasi, meneruskan materi lokakarya ini ke masyarakat setelah pelatihan selesai, bersama-sama dengan British Council.
  3. Perwakilan CSO yang berpartisipasi dalam lokakarya adalah pengambil keputusan (contoh direktur, staf senior atau dewan). Setiap CSO dapat mengirimkan maksimal satu orang perwakilan.

Pendaftaran

Karena keterbatasan tempat dan agar pelatihan berjalan efektif, peserta akan diseleksi maksimal untuk 30 peserta. Silakan mengisi formulir pendaftaran di sini (Google Form)

Aplikasi ditutup Selasa, 6 Agustus 2019, 23:59 WIB. British Council hanya akan menghubungi peserta yang terpilih selambat-lambatnya Rabu, 14 Agustus 2019.

Catatan

  1. British Council akan memilih peserta berdasarkan pertimbangan British Council, formulir aplikasi dan ketersediaan kursi pada saat lokakarya.
  2. British Council akan menyeleksi maksimal 30 peserta untuk mengikuti pelatihan ini.
  3. British Council tidak menyediakan fasilitas transportasi (pesawat, kereta atau kendaraan, dll) menuju dan dari Jakarta, lokasi lokakarya.
  4. Untuk peserta yang berdomisili dari luar Jakarta, British Council akan menyediakan akomodasi twin-share selama durasi lokakarya

tulisan ini direpost dari website British Council Indonesia

22 Dec

5 Tips Menjadi Social Entrepreneur

wirausaha-sosial

Social Entrepreneurship dan Social Enterprise merupakan pendekatan bisnis yang menawarkan solusi inovatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Menjadi entrepreneur itu sebenarnya sebuah peluang yang sangat baik untuk dapat berkontribusi bagi orang lain. Kita dapat membantu orang lain menyelesaikan sebagian kecil permasalahan mereka dengan berbisnis. Saya sering menyampaikannya di kelas-kelas kewirausahaan yang saya fasilitasi. Terdengar klise karena bisnisnya cenderung membutuhkan investasi biaya yang lebih besar dibanding bisnis-bisnis konvensional lainnya, tapi jika bisnis kita berangkat dari sebuah permasalahan yang ada di lingkungan kita, kita dapat mencapai 2 hal sekaligus: bisnis kita dapat memberikan prospek pemasukan yang bagus dalam jangka panjang dan dapat membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi segmen pelanggan kita, bahkan kita dapat berkontribusi positif terhadap isu lingkungan. Pendekatan bisnis semacam ini dalam 2 dekade terakhir dikenal dengan nama triple bottom line (TBL) atau yang juga dikenal dengan pendekatan bisnis 3P (Profit, Planet dan Profit).

triple-bottom-line-1

Triple Bottom Line: menawarkan konsep yang menempatkan kepentingan stakeholder di atas shareholder dengan pendekatan Profit, Planet dan People

TBL atau 3P merupakan sebuah konsep berbisnis yang lebih mengedepankan kepentingan stakeholder (semua yang terlibat dan terkena dampak dalam siklus bisnis yang kita jalankan) daripada shareholder (pemegang saham). Ya, bisnisnya tidak melulu mengejar Profit (keuntungan materi) semata, namun juga Planet dan People. Planet karena bisnis tersebut dikelola dengan baik dengan menekan serendah mungkin penggunaan energi dan sumber daya (terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui). Ya, mereka mengurangi hasil limbah produksi dan bahkan mengolah limbah tersebut menjadi limbah yang aman bagi lingkungan. Selain itu, bisnis ini juga mengadopsi pendekatan People. People artinya bisnis tersebut mengedepankan praktek-praktek bisnis yang berpihak kepada ketenagakerjaan.

Belakangan semakin banyak bisnis-bisnis baru yang lahir dan mengadopsi pendekatan TBL atau 3P ini dengan semakin maraknya kampanye berbisnis yang berorientasi pada lingkungan dan permasalahan sosial. Sebut saja Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dengan Indonesian Green Entrepreneurship Program (IGEP) dan  Start Your Business for Social Entrepreneurs-nya dan British Council dengan Program Social Enterprisenya. Kemudian ada juga Unlimited Indonesia, DBS Foundation dan National University of Singapore (NUS) dan saya yakin organisasi yang lain juga menaruh perhatian besar terhadap pendekatan bisnis semacam ini seiring dengan meningkatnya isu sosial dan lingkungan.

Lantas apa yang harus dilakukan agar bisnis kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan dan masalah sosial? Mari kita simak sambil menyeruput kopi Gayo yang mendunia itu.

Read More

26 Feb

British Council-Diageo Social Enterprise challenge: Call for Application

BritishCouncilBanyak organisasi yang menggabungkan misi sosial transformatif lembaga dan semangat memberdayakan masyarakat kecil dengan cara mengemukakan ide dan mengikutsertakan masyarakat banyak.

Kita percaya bahwa kehadiran organisasi-organisasi semacam itu dapat menghasilkan aset budaya, sosial, intelektual yang berdampak pada generasi-generasi yang kreatif, inovasi budaya, diskursus intelektual dan toleransi sosial yang terintegrasi.

Read More

06 Nov

British Council: Workshop NGO Transformation to Social Enterprise

NGO Transformation to Social Enterprise

 

British Council kembali menyelenggarakan pendaftaran Lokakarya NGO Transformation to Social Enterprise untuk Organisasi nirlaba yang berkeinginan bertransformasi menjadi social enterprise.

Lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian program Skills for Social Entrepreneurs yang dirintis oleh British Council sejak tahun 2009. NGO transformation to Social Enterprise workshop bertujuan memberikan landasan konseptual dan praktis mengenai usaha sosial dan relevansinya bagi organisasi-organisasi nirlaba untuk menjaga keberlanjutan dari misi sosialnya; serta diperuntukkan bagi organisasi-organisasi dan lembaga swadaya masyarakat yang tertarik untuk bertransformasi menjadi social enterprise.

Read More