01 Aug

Menjadi Kekinian dengan Pengelolaan Keuangan yang Sehat

Gaji Andri Rp. 21 Juta, Pengeluaran Rp. 100 Juta

PAsakBegitulah kira-kira bunyi petikan judul Koran Kompas (29/07/2016). Andri yang disebutkan dalam judul itu adalah mantan Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Mahkamah Agung yang tersandung perkara korupsi dengan dugaan telah menerima uang suap sebesar Rp. 400 Juta. Namun, saya tidak akan mengulik secara spesifik tentang kasus yang tengah diselidiki oleh KPK tersebut karena hal tersebut bukan expertise saya, Akan tetapi, judul tersebut telah menginspirasi saya untuk membuat tulisan ringan agar tidak terjebak dalam kondisi yang dialami Andri hingga harus menerima suap guna mencukupi pengeluarannya.

Lebih Besar Pasak daripada Tiang. Peribahasa yang pas untuk menggambarkan kondisi diatas; suatu kondisi dimana pengeluaran kita lebih besar dari pemasukan kita. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Andri saja. Saya juga sering menemui hal semacam ini ketika memfasilitasi pelatihan Pengelolaan Keuangan untuk Keluarga. Kondisinya beragam. Ada yang bilang nyari sumber pemasukan tambahan susah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengimbangi pengeluaran. Ada yang terjebak hutang tak berkesudahan. Ada yang tak bisa menahan godaan keinginan hingga yang paling parah adalah agar bisa disebut kekinian dan terlihat keren di mata orang lain!

Hasil riset yang dilakukan oleh Kadence Internasional pada tahun 2015 menyatakan bahwa 28% orang Indonesia memiliki kebiasaan gaya hidup konsumtif yang tidak sehat alias pengeluaran mereka lebih besar daripada pemasukannya. Persentase yang cukup mencengangkan, hampir ¼ masyarakat kita boros dalam membelanjakan uang! Menurut saya semuanya akan bermuara pada satu hal: kita tidak bisa mengelola keuangan kita dengan baik. Lantas bagaimana sebaiknya agar pengeluaran kita tidak lebih besar daripada pemasukan? Mari kita simak bersama sambil menikmati kopi.

 

#1 Hitung Pemasukan dalam Satu Bulan. Dalam pelatihan pengelolaan keuangan yang saya fasilitasikan, peserta sering menyebutkan “kira-kira” ketika ditanya berapa pemasukan bersih mereka dalam sebulan setelah dipotong biaya-biaya. Mungkin juga Anda yang membaca tulisan ini akan mengatakan hal yang sama ketika saya tanya berapa pemasukan bersih Anda dalam sebulan. Hayo ngaku! Jika Anda belum mengetahuinya, maka sebaiknya Anda harus mulai berhitung untuk mengetahui posisi keuangan Anda setiap bulannya agar lebih mudah dalam menyusun Anggaran bulanan nantinya.

#2 Hitung Pengeluaran Bulanan. Berbeda dengan menghitung pemasukan, kalau sudah menyangkut pengeluaran, biasanya peserta pelatihan lebih fasih dalam menuliskan daftar pengeluaran. Haha..pokoknya kalau urusan membelanjakan uang, paling cepet ngitungnya sampai tau-tau minus aja di Saldo Anggaran. Nah..teman-teman, membuat daftar pengeluaran dan jumlahnya dalam satu bulan itu sangat penting karena akan membantu kita mengidentifikasi kebutuhan pokok dan menganalisa pengeluaran yang masih bisa ditunda sehingga kamu bisa menabung. Bagaimana caranya? Tulislah secara rinci daftar pengeluaran beserta jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Semakin rinci, semakin baik.

#3 Buatlah Anggaran. Nah..ini adalah cara sederhana tapi paling efektif untuk merencanakan keuangan kamu agar tidak minus. Bagi yang belum terbiasa menyusun anggaran dan punya kebiasaan boros, biasanya akan repot tembel sana tembel sini dalam menerapkannya. Tapi menurut saya itu lebih baik karena dengan begitu dia secara perlahan menyadari kondisi keuangannya yang tidak sehat. Tidak mudah memang, tapi kamu harus mulai mencobanya jika ingin memperbaiki kondisi keuangan keluargamu.

Susun anggaranmu dengan cermat dan masuk akal. Jangan sampai karena pengen hemat sampai harus makan nasi sama kerupuk dan sambel saja! Hehe..hematlah secara perlahan-lahan. Bila kamu mematuhi anggaran yang dibuat dan berhasil melakukan penghematan, hargailah upaya tersebut reward-reward tertentu yang membuat kamu lebih bersemangat menjalankan anggaran yang telah dibuat.

#4 Analisa Kebiasaanmu dalam Membelanjakan Uang. Setelah kamu mulai menyusun anggaran, mulailah dengan mencatat setiap pengeluaran yang kamu buat. Cara ini akan membantu kamu dalam mengetahui dan menganalisa kebiasaan kamu dalam membelanjakan uang. Dalam satu bulan pencatatan, kamu bisa membandingkannya dengan anggaran yang telah dibikin dan menilai item-item mana yang tidak berjalan dengan baik.

#5 Mulai Berhemat dan Biasakan. Berhemat itu penting karena hal ini juga akan mempengaruhi kondisi keuangan kita. Akan tetapi, kamu ngga harus menderita untuk bisa berhemat. Hematlah secara bertahap dan terencana. Kamu bisa mulai dari hal-hal kecil yang terlihat mudah untuk dilakukan. Bukan berarti kamu ngga boleh belanja, tapi belanjalah secara cerdas. Untuk menjadi pebelanja yang cerdas, kamu bisa baca tulisan ini.

#6 Ganti kebiasaan Lama. Agar pengeluaran kamu tidak membengkak, tentu kamu harus berhemat. Berhemat artinya kamu harus mengubah kebiasaan lama dalam membelanjakan uang. Tentu awalnya tidak mudah. Contoh, kamu suka makan di warung/café/restoran. Maka kamu bisa ubah kebiasaan tersebut dengan makan di rumah. Biasa ngopi di luar diganti dengan membuat kopi sendiri di rumah. Tak perlu radikal mengubah kebiasaan lama, tapi perubahan incremental yang bisa secara konsisten kamu lakuin. Perlahan tapi pasti. Menjadi kekinian tidak harus mengorbankan kondisi keuangan kita bukan?

Selamat mencoba. Ada pengalaman lain atau tips?

Sumber foto: http://www.uangkartal.com/2016/01/besar-pasak-dari-pada-tiang.html