22 Dec

5 Tips Menjadi Social Entrepreneur

wirausaha-sosial

Social Entrepreneurship dan Social Enterprise merupakan pendekatan bisnis yang menawarkan solusi inovatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Menjadi entrepreneur itu sebenarnya sebuah peluang yang sangat baik untuk dapat berkontribusi bagi orang lain. Kita dapat membantu orang lain menyelesaikan sebagian kecil permasalahan mereka dengan berbisnis. Saya sering menyampaikannya di kelas-kelas kewirausahaan yang saya fasilitasi. Terdengar klise karena bisnisnya cenderung membutuhkan investasi biaya yang lebih besar dibanding bisnis-bisnis konvensional lainnya, tapi jika bisnis kita berangkat dari sebuah permasalahan yang ada di lingkungan kita, kita dapat mencapai 2 hal sekaligus: bisnis kita dapat memberikan prospek pemasukan yang bagus dalam jangka panjang dan dapat membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi segmen pelanggan kita, bahkan kita dapat berkontribusi positif terhadap isu lingkungan. Pendekatan bisnis semacam ini dalam 2 dekade terakhir dikenal dengan nama triple bottom line (TBL) atau yang juga dikenal dengan pendekatan bisnis 3P (Profit, Planet dan Profit).

triple-bottom-line-1

Triple Bottom Line: menawarkan konsep yang menempatkan kepentingan stakeholder di atas shareholder dengan pendekatan Profit, Planet dan People

TBL atau 3P merupakan sebuah konsep berbisnis yang lebih mengedepankan kepentingan stakeholder (semua yang terlibat dan terkena dampak dalam siklus bisnis yang kita jalankan) daripada shareholder (pemegang saham). Ya, bisnisnya tidak melulu mengejar Profit (keuntungan materi) semata, namun juga Planet dan People. Planet karena bisnis tersebut dikelola dengan baik dengan menekan serendah mungkin penggunaan energi dan sumber daya (terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui). Ya, mereka mengurangi hasil limbah produksi dan bahkan mengolah limbah tersebut menjadi limbah yang aman bagi lingkungan. Selain itu, bisnis ini juga mengadopsi pendekatan People. People artinya bisnis tersebut mengedepankan praktek-praktek bisnis yang berpihak kepada ketenagakerjaan.

Belakangan semakin banyak bisnis-bisnis baru yang lahir dan mengadopsi pendekatan TBL atau 3P ini dengan semakin maraknya kampanye berbisnis yang berorientasi pada lingkungan dan permasalahan sosial. Sebut saja Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dengan Indonesian Green Entrepreneurship Program (IGEP) dan  Start Your Business for Social Entrepreneurs-nya dan British Council dengan Program Social Enterprisenya. Kemudian ada juga Unlimited Indonesia, DBS Foundation dan National University of Singapore (NUS) dan saya yakin organisasi yang lain juga menaruh perhatian besar terhadap pendekatan bisnis semacam ini seiring dengan meningkatnya isu sosial dan lingkungan.

Lantas apa yang harus dilakukan agar bisnis kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan dan masalah sosial? Mari kita simak sambil menyeruput kopi Gayo yang mendunia itu.

Read More