25 Nov

SYGB ILO: Seorang Pengusaha Muda Go Green

Praktek bisnis yang baik harus mempertimbangkan tidak hanya aspek keuntungan (profit), tapi juga lingkungan (planet) dan sosial (people).

BANDUNG, IndoIlhamnesia – Ilham Rhamanda barangkali salah satu orang yang paling berbahagia di Bandung. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, dia bersama saudaranya mendirikan sebuah perusahaan konveksi pakaian olahraga, dengan reputasi desain yang orisinil. Mereka mempekerjakan 12 karyawan dan men-supply sejumlah toko perbelanjaan di kota Bandung, ibukota Jawa Barat. Akan tetapi, kondisi ini tidak lantas membuat Ilham (34), ayah dari seorang putri yang berusia 2 tahun ini, puas begitu saja.

Ilham melihat limbah air yang mengalir dari tempat kerjanya (workshop) ke lingkungan sekitar. Dia menyadari bahwa perusahaan konveksi pakaian olahraganya, seperti halnya usaha kecil dan menengah (UKM) lainnya di Bandung, di satu sisi berkembang, akan tetapi, di sisi lain berdampak pada kualitas lingkungan, menghasilkan sejumlah limbah, sampah dan polusi industri. Namun demikian, untuk menjadikan bisnisnya menghasilkan keuntungan dan juga ramah lingkungan, bagi Ilham, seperti sebuah puzzle pada saat itu.

Jadi, ketika Ilham memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan Start Your Green Business (SYGB), yang diadakan oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO), Ilham mengambil kesempatan tersebut. “Praktek bisnis yang baik harus mempertimbangkan tidak hanya aspek keuntungan (profit), tapi juga lingkungan (planet) dan sosial (people),” ujarnya. “karena keduanya (planet dan people) penting untuk perkembangan bisnis kita secara berkelanjutan.”

Pemikiran konvensional Kaya dulu dan bersihkan kemudian tidak berlaku jika anda merusak lingkungan, dan tidak mempertimbangkan karyawan anda. Lurraine Villacorta, seorang spesialis Lingkungan dan Pekerjaan Layak ILO, mengatakan. “Untungnya, para pengusaha, terutama pengusaha muda di Indonesia, menyadarinya. Apa yang mereka butuhkan adalah pengetahuan dan keahlian untuk menuangkan ide mereka menjadi sesuatu yang nyata. Dan disitulah peran ILO.”

Villacorta menyebutkan bahwa “green” tidak berarti hanya mengurangi dampak usaha anda terhadap lingkungan, akan tetapi juga memenuhi standar pekerjaan layak, seperti lingkungan kerja yang aman, gaji yang memadai, hak karyawan, dialog dan perlindungan karyawan. Selama pelatihan SYGB, pelatih menyampaikan prinsip-prinsip ini, kebijakan dan praktek-praktek pekerjaan layak yang harus dipertimbangkan. Mereka membantu Ilham dan peserta lainnya untuk menghasilkan ide-ide bisnis green maupun bagaimana “menghijaukan” bisnis (greening), termasuk di sektor pangan dan pertanian, pariwisata yang berkelanjutan, pengelolaan limbah dan daur ulang, energi yang terbarukan dan industri kreatif.

Pelatihan tersebut menSaluran pembuangandorong Ilham menemukan solusi dari permasalahan limbah air dan cairan kimia yang dihasilkan oleh perusahaannya. Ilham menemukan ide untuk membuat dan memasang filter air yang terbuat dari serat kelapa, karbon aktif dan kotak sedimentasi untuk mengeliminasi kotoran dan limbah dari proses sablon, tinta dan dan cairan kimia lainnya serta mencegah limbah tersebut agar tidak mencemari saluran lokal dan lingkungan sekitar. Filter tersebut murah, mudah dipasang dan mudah dikelola, yang menjadikan produk Ilham masih bisa dijual kompetitif di pasar. Karyawan Ilham juga senang dengan ide tersebut.. “Kegiatan bisnis saya tidak membahayakan lingkungan dan masyarakat sekitar masih bisa menikmati air bersih,” ujar Ilham. “Saat ini, tidak ada yang perlu saya kuatirkan, termasuk klien-klien bisnis saya.”

Ilham 2Ilham juga mulai mempromosikan aspek ‘green’ dalam bisnisnya dan sedang mempertimbangkan ide-ide baru seperti tinta sablon yang ramah lingkungan. “Rencana saya selanjutnya untuk menjadikan bisnis saya green adalah mengembangkan brand kami dengan bahan organik dan pewarna baju alami,” ujarnya. Untuk jangka panjang, dia ingin mengembangkan bisnisnya dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Pelatihan SYGB memberikan peluang kepada para pengusaha muda peluang bisnis dan jaringan. Ilham, saat ini, menjual sisa kain konveksinya kepada perusahaan lain, yang memproduksi aksesoris jilbab dan pakaian wanita.

Sejauh ini, pelatihan SYGB telah melatih hampir 200 pengusaha di 6 propinsi Indonesia untuk menyeimbangkan kegiatan bisnis mereka dengan perubahan iklim dan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka, baik dengan menghasilkan produk yang ramah lingkungan maupun menerapkan proses produksi yang ramah lingkungan.

“Banyak pengusaha muda seperti Ilham yang berpikir jangka panjang dan ingin menerapkan pendekatan yang lebih keberlajutan (sustainable) pada bisnis mereka,” sebut Peter Van Rooij, Direktur ILO Indonesia. “Mereka sadar bahwa perekonomian Indonesia berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir, akan tetapi, dalam perkembangan juga berdampak pada lingkungan, dan mereka ingin berkembang dengan cara yang berbeda. ILO dengan senang hati membantu mereka dan mendukung kegiatan ekonomi yang lebih green dan berkelanjutan.”

Pelatihan SYGB diorganisir berkat dukungan ILO/Program Kemitraan Korea melalui Program Green Jobs di Asia dan pasifik (Green Jobs-A/P).

Sumber: Buletin ILO Regional Asia & Pasifik

Yudi Utomo

A Training Designer and Social Enterprise Enthusiast @BMUNusantara

2 thoughts on “SYGB ILO: Seorang Pengusaha Muda Go Green

  1. Avatar

    Kak boleh tau step2 buat filter air dari serat kelapa? Trus ada konsep lain ga yang bisa diterapkan untuk praktek go green mahasiswa selain biopori dan tanam pohon?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.