27 Apr

Raisa dan Masa Depan Kekinian Bangsa

RaisaMungkin judul di atas terlalu berlebihan bagi sebagian Anda. Sementara sebagian yang lain mungkin menilai judul di atas tidak berkorelasi dan terlalu dipaksakan. Sisanya, bisa ditebak, menilai judul di atas terlalu seronok yang ditulis dalam kondisi mabuk atau mood yang sedang jelek.

Tapi bagi penulis, tentu ada argumentasi yang dinilai cukup kuat untuk merajut tali mengkait antar objek yang diangkat kedalam judul tulisan ini.

Ya. Kenapa Raisa? Jawab penulis simpel, “kenapa tidak?”

Kenapa dikaitkan dengan masa depan bangsa?, lagi-lagi jawabnya “kenapa juga tidak?”

Bentar ya…
Mari kita nikmati tulisan ini dengan seruputan hangatnya secangkir kopi  ☕

Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, telah menempatkan negeri ini menjadi negara berpenduduk terpadat keempat di dunia. Sementara itu, terdapat 64 juta jiwa (atau 28%) yang berada dalam usia muda dan dalam rentang kategori penduduk produktif. Komposisi ini sering disebut sebagai bonus demografi.

Kenapa disebut bonus demografi? Dengan asumsi rentang usia produktif akan menjadi hulubalang bagi economic driver (penggerak kegiatan ekonomi) negeri, tidak salah bila kemudian banyak pihak mengasosiasikan usia muda sebagai usia produktif. Dengan logika ini, diharapkan anak muda bisa memacu roda produktivitas bangsa ke puncak kulminasi teroptimalnya.

Tetapi apakah sepenuhnya seperti itu? Ya. Penggalan logika di atas tentu akan sepenuhnya berjalan bila memenuhi prasyarat-prasyarat. Seperti apa? Pertama, kaum muda memiliki keahlian dan kecapakan untuk berbuat sesuatu yang positif dan berkontribusi pada penciptaan rantai produksi hingga terlibat di mata rantai suplai dalam kegiatan ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam tahap ini, anak muda diandaikan bisa mentransformasikan daya imaji kreatifnya kedalam karya dan tindakan nyata dan bernilai positif bagi masyarakat. Kedua, anak muda memiliki keunggulan kompetitif sehingga akan gagah bila disandingkan dengan anak-anak muda dari belahan negara lain–yang juga sedang dipersiapkan oleh negaranya untuk lebih kompetitif terhadap negara lain termasuk Indonesia.

Lalu apa yang terjadi dengan kaum muda di negara kita Indonesia ini?

Dengan komposisi penduduk muda yang seperempat lebih dari total jumlah penduduk, Indonesia diperkirakan akan mengalami ledakan jumlah penduduk pada tahun 2035. Udah kebayang kan apa masalah yang akan kita hadapi bila terjadi ledakan penduduk di satu sisi dan sementara di sisi lain kita tidak siap dengan ledakan penduduk?

Belum lagi bila melihat kondisi Ketenagakerjaan kaum muda Indonesia saat ini. Tahukah Anda bahwa angka penduduk muda Indonesia yang menganggur saat ini di atas 20%? Ya. Angka ini terlalu besar bagi kita. Bayangkan, angka pengangguran muda kita setara 3 kali lipat prosentasi pengangguran nasional kita. Bahaya bukan?

Dengan angka pengangguran seperti itu, bisa dibayangkan betapa susahnya anak muda kita untuk masuk di pasar kerja (labour market). Betul. Baru di pasar kerja lho. Kita belum bicara soal dunia kerja ini. Kalau masuk ke pasar kerja aja susah, bisa terbayangkan betapa sulitnya anak muda kita untuk bisa berkompetisi di dunia kerja.

Bagaimana cara mengurai benang kusut ini?

Well. Agak rumit sih.
Selama pemerintah tidak bisa menciptakan industri dan lapangan kerja baru secara masif, tentu angka pengangguran muda kita tidak akan bergerak ke bawah. Ia justru akan merangsek naik dan semakin progresif ke atas. Bisa juga membumbung tinggi bila negara gagap menghadapinya.

Salah satu yang paling ampuh untuk mengatasinya ya melalui penumbuhan wirausaha di kalangan muda. Kenapa wirausaha? Selama dunia industri dan investasi tidak bergerak secara signifikan dan melebar, pilihan kita miliki hanya bersisa sedikit. Mau tidak mau kita harus menciptakan peluang untuk bisa menemukan pekerjaan (setidaknya) bagi diri sendiri. Menolong diri sendiri agar selamat dari jebakan pengangguran. Ini bukan jebakan batman atau apa. Ini jebakan yang mana lebih dari 20% anak muda di Indonesia tengah sakau berada di dalamnya.

Kewirausahaan atau wirausaha atau usaha mandiri akan menciptakan peluang-peluang. Bukan saja peluang bagi diri si penganggur, tetapi akan memberi dampak ikutan bagi berputarnya kegiatan ekonomi di sekitar. Ia bagai pusaran riak kecil di tengah samudra virgin yang biru dan terpencil. Mulanya kecil, tetapi ia akan menjadi gelombang yang bisa menengelamkan Titanic sekalipun bila sudah ketemu daya optimalnya. Jangan lupa: ini anak muda Bung!

Biar tidak susah membayangkan alinea di atas, marilah kita menengok kawan kita yang elok dan bersahaja. Ya. Siapa lagi kalau bukan Raisa?
(asyeeeek… Ini bagian paling dinanti kan?)

Raisa, kita tahu semua bahwa ia merupakan penyanyi yang tersohor saat ini. Iya sih. Dia cantik. Itu tak terbantahkan. Tapi saya tidak akan membahas kecantikannya di sini. Kecantikannya tidak relevan dalam konteks tulisan ini.

Raisa tersohor karena karya-karyanya yang luar biasa. Pernahkan Anda menyetir mobil jarak jauh dan merasa sendirian karena seisi mobil pada tertidur kecapekan? Anda lalu merasa ikut lelah dan kantuk mulai menyergap? Lalu Anda cari stasiun radio lokal melalui tuner di head unit mobil Anda dan tetiba terdengar lantunan “Could it be love”-nya Raisa. Anda tentu akan serentak tergugah dan semangat untuk meneruskan perjalanan meski ditinggal tidur seisi mobil.

Lalu, giliran Anda istirahat dan kemudi kendaraan diambil alih oleh teman atau anggota keluarga Anda. Anda lalu ingin tidur dan tetiba di chanel radio lain terdengar lagu “Mantan Terindah”. Tentu tidur Anda akan menjadi lebih indah dan bermakna. Kita cukupi dengan 2 lagu Raisa ya. Ini kan bukan tulisan resensi Album lagu.

I would simply say bahwa lagunya Riasa itu selalu enak didengar oleh mayoritas khalayak. Yang ngaku rocker pasti suka. Yang giat di dunia dengar dangdhut juga terpana. Yang suka nge-jams di pentas-pentas jazz juga terpesona.

Raisa itu bagi saya menggambarkan betapa anak muda kita sebenarnya bisa berkarya. Bukan saja karya biasa. Anak muda kita bisa menghasilkan karya luar biasa. Raisa hanya salah satunya!

Raisa itu figur anak muda ideal kita. Walaupun diberi kecantikan yang luar biasa oleh Maha Pencipta, ia tidak mengeksploitasi kecantikannya demi popularitas. Ia sadar betul, kecantikannya hanya akan dihargai murah bila diobral di muka publik. Ia sadar betul, ia harus menyelami sisi lain dari hidden potential yang tidak kasat fisik di muka publik. Ia secara meyakinkan menggeser popularitas diva-diva kita. Di saat yang sama, ia juga sekaligus menenggelamkan idola-idola pop muda sekelas Agnes Monica sehingga ia harus rebranding menjadi Agnes Mo–yang rebranding ini mungkin tidak ada kaitannya sih.

In short–udah panjang juga sih ya–Raisa itu sosok muda ideal. Di tengah popularitasnya, ia masih tetap ayu secara positif. Bukan ayu fisik saja, selain produktif berkarya Raisa juga tetap adem ayem dari lalu lintas infotainment murahan. Kalau ia ter-published di media tentu karena karya atau kebaikan lainnya.

Kembali lagi kepada sebagian anak muda kita. Apakah mereka seperti Raisa?

Saya ingin mengatakan: sebagian besar tidak!

Mereka saat ini hanya menjadi konsumen gagal dari produk gagal pula.

Lihatlah. Sebagian anak muda kita. Dari lapisan ekonomi yang paling pas-pasan pun kini alokasi pengeluaran terbesar untuk beli pulsa demi menebus kuota internet. Celakanya quota tersebut hanya digunakan untuk update status tidak penting di medsos. Atau sekedar unggah foto-foto tidak penting. Sebagian lagi larut dalam pusaran fitnah berantah yang tidak ada manfaatnya. Sebagian lainnya terobsesi untuk menjadi mujahid gagal paham setelah membuka tulisan-tulisan sesat dan tak terverifikasi tentang mulianya membunuh umat manusia yang beda keyakinan atau halauan preferensi politik keagamaan. Sisanya, mengkreasi cerita-cerita palsu untuk mendiskreditkan orang yang sama sekali tidak mereka kenal dan belum pernah ketemu dengannya untuk membuat sensasi, siapa tahu terkenal di kemudian hari. Mengerikan bukan bila anak muda kita seperti ini?

Tapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak-anak muda seperti ini. Mereka sama saja dengan anak muda kebanyakan: rasa ingin tahu tinggi, rasa ingin mencoba tiada henti, rasa ingin diakui tak terperi. Lalu mereka ketemua dengan ‘dunia yang salah’. Apalagi kalau bukan dunia gosip murahan di media, dunia fitnah di media sosial, dan dunia pergaulan yang hanya berisikan serpihan sampah-sampah peradaban muda.

Pemerintah harus bisa memfasilitasi daya imajinatif dan kreatif anak muda. Salah satunya dengan memberikan pendidikan kewirausahaan yang memadai bagi mereka agar anak muda memiliki modal dasar untuk memulai sesuatu yang lebih nyata bagi masa depannya.

Kewirausahaan itu sebenarnya mudah. Ia hanya terdiri dari serangkaian pengetahuan, yang diikuti oleh sejumlah kegiatan produksi dan/atau pelayanan yang memiliki kualitas tertentu, dan didukung oleh lingkungan fasilitas penunjang yang mumpuni atau lebih sering disebut dengan “enabling environment“.

Memberikan pengetahuan tentu merupakan tugas negara. Negara seharusnya bisa memfasilitasi transfer of knowledge dari orang-orang pintar kepada anak-anak muda ini. Pelatihan dan pendidikan kewirausahaan harus dibikin lebih berkualitas. Ingat, di negara ini ada 276 Balai Latihan Kerja (BLK). Bayangkan kalau BLK-BLK ini didayagunakan optimal untuk penumbuhan wirausaha muda kita.

Lalu, unsur kedua kewirusahaan adalah produksi dan pelayanan. Ini merupakan bagian yang menjadi tugas anak muda itu sendiri. Setelah mendapatkan knowledge tentang how to manage a business, how to produce, how to win the market, mereka harus mampu menunjukkan kualitas sejati dari dirinya. Kalau Raisa saja yang cantik tak terkira bisa melakukannya, kenapa anak muda yang lainnya tidak?

Unsur ketiga dari kewirausahaan adalah enabling environment bagi dunia usaha kaum muda kita. Di sini menjadi tugas pemerintah dan swasta (baca: kalangan usaha, industri dan konglomerasi) untuk memberikan daya dukung bagi para wirausaha muda. Ini bisa berupa mulai dari peraturan-peraturan yang mendukung, program dan kegiatan yang bagus bagi anak muda, akses terhadap pembiayaan, akses terhadap pasar, hingga terbukanya secara lebar karya anak muda untuk masuk ke global supply chains (GSC).

Bagimana dengan kami? BMU Nusantara sebagai lembaga penyedia layanan pengembangan bisnis tentu selalu setia di garda terdepan untuk mendukung anak-anak muda menemukan potensi terhebatnya untul berani tampil di dunia usaha. Kami menyediakan fasilitasi-fasilitasi pengembangan kapasitas dan pendampingan hingga siap berwirausaha. Mari kita bersama-sama.

————————————————————————————————————————

(Tulisan seorang teman, wong deso dengan pikiran yang terkadang nyeleneh namun brilian. Hamba Tuhan yang bodoh dan tak kunjung pintar).

————————————————————————————————————————

sumber gambar: Instagram Raisa (raisa6690)

Jimmy Febriyadi

Always newbie Facilitator. Fasilitator Social Enterprise, Kewirausahaan (GET Ahead & SIYB) dan Financial Education. Praktisi Business Development Services Provider yang fokus membidangi kegiatan Fasilitasi, Riset dan Pendampingan Masyarakat, melalui Pelatihan Kewirausahaan dan Pendidikan Keuangan. Aktif sebagai konsultan UN, beberapa Instansi Pemerintah dan NGO.

One thought on “Raisa dan Masa Depan Kekinian Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.