28 Aug

Pendamping UMKM: Akankah Tergeser Profesi ini di Jaman Revolusi industri 4.0?

37C98EA9-12E4-47A7-A4B7-189FDCE9F41C

Pendamping usaha atau pendamping UMKM rasanya sudah bukan sesuatu yang asing di telinga banyak orang. Tidak sedikit orang menekuni profesi ini dan bahkan menjadi sumber mata pencaharian sehari-hari. Beragam pihak yang membutuhkan jasa pekerjaan ini, terlepas status keprofesiannya yang masih arbitrer mengenai kompetensinya. Bergantung siapa yang akan menggunakan jasanya. Setiap pengguna jasa menentukan sendiri kriteria dan kualifikasi pendamping yang dibutuhkan. Belum baku.

Saya pribadi tidak tahu sejak kapan kata “pendamping” (orangnya) atau “pendampingan” (kegiatannya) itu mulai digunakan. Saya pernah browsing untuk menggali apa itu pendamping atau pendampingan secara definitif. Namun, mbah gugel nyatanya belum punya definisi yang spesifik yang bisa digunakan sebagai acuan. Setidaknya untuk pendamping usaha atau UMKM. Sekali lagi, arbitrer.

5174C515-C644-4633-A0B6-C792C8C9EE91

Ilustrasi pendampingan

Saya sudah lama ingin menuliskan hal ini. Bukan tanpa alasan. Diantaranya, setiap tahun selalu ada rekrutmen pendamping dari berbagai lembaga pemerintah. Lembaga non-pemerintah pun demikian. Beda istilah saja. Kalau non-pemerintah biasanya menyebutnya “fasilitator lokal”. Ini menandakan bahwa profesi ini dibutuhkan oleh banyak pihak. Cuma pertanyaannya, sudah seberapa efektif? Sudah seberapa kompetitif pendampingnya? Apa cuma dianggap aji mumpung saja dan mengandalkan program pemerintah?  Kalau Non Pemerintah (swasta atau NGO) yang akan merekrut pendampingnya, sudahkah masuk kualifikasi dan pengalamannya? 

Sebelum lebih jauh, saya ingin mengajak Anda untuk menyepakati satu hal terkait peran atau profesi ini. Pendamping usaha atau UMKM ini adalah orang yang diharapkan bisa berperan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis dan leadership dari pelakunya atau orang yang menjalankan bisnis. Sampai disini, mari kita sebut pelaku usaha atau UMKM tersebut sebagai klien.

Mengapa klien? Karena itu akan membuat profesi pendamping menjadi naik kelas seperti profesi lain pada umumnya, dan pelaku usahanya juga demikian. Karena saya percaya bahwa pelaku usaha pemula atau yang sudah jalan bisnisnya adalah seorang entrepreneur. Bukan semata-mata sebagai orang yang butuh bantuan; bukan pula lebih inferior dari pendamping; dan agar profesi pendamping ini bisa punya ruang lingkup yang lebih luas. Tidak perlu menunggu rekrutmen agar bisa disebut pendamping. Jadi, sekali lagi mari kita sebut pelaku usaha atau UMKM itu sebagai klien agar pendamping bisa lebih profesional dalam mendorong pertumbuhan bisnis kliennya.

Saya yakin profesi ini bisa berkelanjutan dan masih akan sangat dibutuhkan terlepas revolusi industri 4.0 yang konon ‘mengancam’ banyak profesi dan merubah peta bisnis. Contohnya, platform Peer-to-Peer (P2P) lending Amartha yang bergerak di pemberdayaan ekonomi UMKM, terutama perempuan. Mereka menyebut pendamping lapangan mereka dengan field officer. Platform Gandeng Tangan punya nama GT-Trust. Dan saya yakin akan terus bermunculan start up jenis ini yang berpihak pada UMKM lainnya, yang tidak hanya sekedar memfasilitasi pinjaman untuk meraup rupiah tapi juga ingin berkontribusi nyata dalam pertumbuhan UMKM di Indonesia.

Nyata kan bahwa meski pembiayaan sudah menggunakan teknologi dan mengancam lembaga pembiayaan konvensional, mereka masih butuh pendamping. Pendamping ini punya peran krusial untuk memastikan model bisnis mereka bisa berjalan: membuat tenang investor (modal kembali plus sedikit keuntungan dan bisa membantu pelaku usaha) dan penerima manfaatnya bisa tumbuh bisnisnya dan bisa mengembalikan pinjaman untuk usahanya.

Lalu, bagaimana agar profesi pendamping usaha atau UMKM tidak tergeser oleh teknologi? Agar bisa terus berkontribusi melahirkan dan mengembangkan usaha yang didampingi? Mari kita simak sambil seruput kopi dulu. :)

#1 Bekali diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal

Ini yang paling penting. Sebagai pendamping, sangat disarankan bisa menguasai beberapa teknik komunikasi. Misalnya, keterampilan menyimak dan bertanya. Teknik-teknik dalam fasilitasi akan sangat membantu profesi sebagai pendamping. Cara berkomunikasi dengan klien akan menentukan proses pendampingan. Membangun kepercayaan dan kesepahaman dibutuhkan komunikasi. Keterampilan ini tidak bisa digantikan oleh teknologi.

#2 Update kapasitas diri secara berkala

Profesi pendamping tidak hanya membantu perijinan, ngurusin kemasan, nyarikan pasar ataupun pinjaman. Tidak hanya urusan teknis. Yang parah mendikte kayak ngajarin anak sekolahan. Tugas pendamping adalah memudahkan memang. Tapi bukan pembantu umum! Proposal dibuatin, pencatatan dibuatin. Perijinan diurusin. Dan semua-semua dibantuin. BUKAN!

Untuk bisa memudahkan proses pendampingan, diperlukan tools dan pendekatan yang bisa memudahkan proses pembelajaran dan diskusi. Tujuannya adalah proses belajar bersama dan mengoptimalkan potensi klien. Sebagai rekan atau tandem diskusi. Akan lebih WOW jika bisa membantu proses perubahan perilaku/mindset. Menjadi pelaku bisnis yang memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat. Banyak media untuk meningkatkan kapasitas diri. Harus diagendakan untuk investasi peningkatan kapasitas. Ikut training, berkomunitas, baca buku dan perkaya pengaetahuan tentang lanskap dunia pendampingan dan bisnis. Stay hungry. Stay foolish. Konon, dalam sebuah penelitian yang melibatkan 200 pelaku usaha kecil, 89% diantaranya berharap dulu mereka memiliki tandem diskusi pada saat merintis bisnisnya! Jadi, lengkapi keterampilan komunikasi interpersonal dengan pengetahuan bisnis yang memadai. Learning never lasts and stay kekinian!

#3 Perbanyak portofolio

Maksudnya adalah perbanyak pengalaman dalam pendampingan. Ini berkaitan dengan dampingan atau pelaku bisnis yang didampingi. Jika mereka dianggap sebagai klien, pendamping seharusnya bisa memberikan yang terbaik agar bisnisnya bisa tumbuh. Dari situ, pendamping bisa belajar dari banyak temuan dan pembelajaran dalam proses bisnis. Tidak mudah memang. Dalam banyak kasus, pelaku usaha pemula dan mikro sebagian besar belum mampu membayar jasa pendamping. Jangan berkecil hati dan terlalu perhitungan, itu bisa dijadikan portofolio untuk memperkaya pengalaman menjadi pendamping. Anda bisa berperan penting dalam perjalanan bisnis klien Anda. Kita tidak pernah tahu suatu saat dia bisnisnya akan seperti apa. Jangan ragu untuk pro bono. Jadikan itu sebagai proses trial and learn. Tak selalu harus dihitung dengan argo. Ketika kesempatan berbayar datang, kapasitas dan pengalaman sebagai pendamping sudah siap pakai!

#4 Lebarkan jaringan

Membangun relasi itu penting bagi semua bidang pekerjaan. Terlebih di jaman disruprif dan serba cepat ini, banyak pekerjaan dan deal bisnis itu lahir dari lingkaran pertemanan, baik online maupun offline, dan dari rekomendasi. Bagaimana mungkin bisa dapat rekomendasi jika 3 hal di atas belum dimiliki atau dilakukan? Membangun jaringan itu tidak harus berkenalan dengan banyak orang. Dan tidak juga hanya manis di bibir saja. Membangun jaringan itu tentang seberapa banyak orang yang tahu tentang kualitas dan pengalaman Anda sebagai pendamping. Ini tentang bagaimana orang lain mempersepsikan diri Anda sebagai pendamping. Akumulasi kebiasaan, konsistensi dan sikap Anda akan membentuk citra apakah Anda layak direkomendasikan atau tidak. Perbanyak teman dan lingkaran profesional…karena itu kesempatan berharga dan investasi jangka panjang. Banyak teman, (insyaallah) banyak rejeki.

#5 Cari mentor atau tandem belajar

Tidak hanya pelaku bisnis yang butuh mentor atau tandem diskusi. Anda sebagai pendamping juga butuh. Di luar sana, banyak yang lebih dulu menekuni pendampingan. Belajarlah dari pengalaman mereka. Bertemanlah dengan orang yang kaya dengan pengalaman dan punya visi yang sama. Anda butuh model atau referensi untuk terus mengukur progress kapasitas Anda. Go beyond the limits! Jangan merasa sudah hebat dan cepat puas. Konon, itu adalah awal dari kemunduran! Jadi, mulailah untuk memiliki mentor dan lingkaran komunitas yang mampu meningkatkan kapasitas Anda.   

#6 Gunakan media sosial untuk branding

Media sosial itu bukan hanya facebook, instagram, twitter dan youtube. Ada juga media sosial untuk kaum profesional. Salah satu paltform yang ternama itu adalah Linkedin. Buatlah akun disitu untuk mendokumentasikan kegiatan dan portofolio Anda sebagai pendamping. Jadi, daripada medsos hanya untuk mengeluh dan nyinyir tentang situasi di luar sana, mending Anda sibuk memperbaiki diri dan kapasitas sebagai pendamping. Jangan cuma share tulisan orang lain, mulailah untuk menuliskan sesuatu tentang yang Anda tekuni. Branding itu bukan melebay-lebaykan atau mengada-ada tentang diri Anda, it’s just about you, who you really are, and what you’re capable of in particular!

#7 Sikap dan motivasi Anda!

sebagai pamungkas, ini sesuatu yang paling penting sebenarnya. 6 hal di atas rasanya akan berat untuk dilakukan jika motivasi  menjadi pendamping hanya untuk menutupi biaya hidup sehari-hari atau hanya dianggap sebagai profesi sampingan saja. Tipe pendamping seperti ini menganggap pelaku usaha yang didampinginya hanya sebagai obyek untuk menggugurkan kewajiban tugasnya sebagai pendamping. Kualitas Anda sebagai pendamping akan bermula dari sikap Anda. Stay humble and be a good guy. Skill is power. Attitude is everything!

Tahun depan adalah tahunnya peningkatan kualitas SDM. Salah satu strategi nasional yang tertuang dalam RPJMN 2020 – 2024. Dalam Visi Indonesia 2045, Indonesia akan menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi dengan PDB terbesar kelima di dunia. Untuk mencapai kesana, dibutuhkan SDM yang unggul, berbudaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perekonomian yang merata dan inklusif. Peran pendamping yang berkompeten akan sangat dibutuhkan untuk memperkuat sektor informal dan membuka lapangan pekerjaan. Sebelum meningkatkan kualitas pelaku usaha, yuk kita tingkatkan dulu kapasitas kita. 

@randie911. Penulis adalah pemerhati dan praktisi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Yudi Utomo

A Training Designer and Social Enterprise Enthusiast @BMUNusantara

2 thoughts on “Pendamping UMKM: Akankah Tergeser Profesi ini di Jaman Revolusi industri 4.0?

  1. Avatar

    Seharusnya Pemerintah ikut peran aktif dalam membangun UMKM dengan mengadakan berbagai pelatihan agar UMKM dapat bertahan pada revolusi industri 4.0 sehingga UMKM dapat berinovasi dan beradapatasi dalam teknologi.

    • admin

      Terima kasih telah meninggalkan jejak di tulisan ringan itu, mas gustyawan.

      Ya, pelatihan dan pendampingan untuk UMKM sebaiknya harus sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan terkini agar bisa berdaya saing. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.