27 Jun

Membangun UMKM? Kolaborasi!

If You Wanna Go Fast, Walk Alone

If You Wanna Go Far, Walk Together

stages-of-life-390x285Ungkapan tersebut tentu bukan sekedar dua bait frasa yang disusun oleh serangkaian kata-kata kosong tanpa makna. Mari kita renungkan bersama-sama. Bulan Ramadhan adalah bulan yang pas untuk refleksi bukan? Karenanyalah kita di dalam agama disuruh untuk melakukan muhasabah atau perenungan diri selama bulan suci ini.

Frasa di atas sebenarnya sangat berjalan-kelindan dengan dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita. Mengapa? Kewirausahaan adalah kerja-kerja kolaboratif. Ia tidak berjalan sendiri. Ia tidak bisa tumbuh besar sendiri. Ia tidak bisa menjadi entitas tunggal di tengah-tengah ketiadaan entitas lainnya. Ia tidak bisa sendirian menjadi gurita di luasan samudra tanpa spesies lainnya. Ya, kewirausahaan adalah ekosistem, karenanya ia sungguh-sungguh memerlukan kerja kolaboratif.

Bila kita runut-lanjut lebih dalam lagi, karena kewirausahaan merupakan kerja kolaboratif, ia mengamanatkan adanya solidaritas.

Kenapa solidaritas dan apa relevansinya?

Baiklah, saya akan mengambil satu analogi sederhana. Misalnya dalam hal pengelolaan sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM). Penguasaan SDA dan SDM di tangan 1% orang tentu akan mengorbankan 99%. Kenapa? Hanya 1% yang berdaya, hanya 1% yang punya kuasa, hanya 1% yang punya akses memberikan tafsir langsung kepada kita bahwa hanya 1% lah yang bisa bertahan hidup dan tumbuh. Sementara 99% sisanya tidak mendapatkan akses, tidak dapat tumbuh dan karenanya mati dan kemudian tiada sama sekali.

Bila saya boleh menggunakan kalimat berikutnya, maka saya ingin mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan ekonomi dilaksanakan dengan dasar pemikiran untuk membangun kebersamaan. Kebersamaan inilah yang menjadi simbol dari solidaritas. Kebersamaan dan solidaritas ini memang tidak hanya ditujukan untuk mengejar profit saja.  Loh,  kok jadi sesat gini? Hehehe… wait…wait bradah and sistah. Maksimalisasi profit itu sudah usang. Maksimalisasi profit itu sudah menjadi bagian masa lalu dari paradigma ekonomi dunia. Paradigma inilah yang sebenarnya telah membelah dunia menjadi kekuatan ekonomi pertama (negara maju), kekuatan ekonomi kedua (negara berkembang) dan kekuatan ekonomi ketiga (negara miskin). Lucu khan? Dunia kok dibelah-belah gitu. Emang milik elu? Emang duren pake dibelah-belah.

Sekarang ini sedang berkembang pemikiran yang merevisi paradigma ekonomi terdahulu, yakni maksimalisasi profit ekonomi haruslah dibarengi dengan semangat kebersamaan dan saling solidaritas. Pembangunan ekonomi tidak hanya mempertimbangkan tripple P  saja yakni people, profit and planet melainkan sekaligus peace atau perdamaian. Perdamaian sejati ya hanya bisa diwujudkan melalui solidaritas yang tulus dan tanpa stigma klasifikasi apalagi guritas marginalisasi oleh dominasi konglomerasi dan hegemoni ekonomi. (bahasanya jadi ngeri-ngeri sedap kan?)

Mengutip pernyataan Reid Hoffman, “No matter how brilliant your mind or strategy,  if you’re playing a solo game, you will always loose out to a team”. Solidaritas dalam ekonomi tidak lagi melihat ente kanan atau kekiri-kirian, perusahaan besar atau mikro, korporasi atau koperasi, bank besar atau keuangan mikro. Solidaritas ekonomi melihat entitas-entitas di atas sebagai ragam nada yang harus dimainkan dalam ritmis tertentu sehingga membentuk harmoni lantunan kidung dalam sebuah orkestra dunia.

Korporasi, koperasi, big company, informal economy seperti warung Mbok Saeni, ditempatkan di posisi yang sejajar dalam ekonomi solidaritas. Mereka sama-sama ditempatkan sebagai pihak yang secara mutlak harus berkolaborasi. Bukan untuk saling mematok, mengkerdilkan, menghisap apalagi mengkooptasi. Solidaritas dalam ekonomi mencoba untuk menawarkan win-win solution ketimbang gurita korporasi yang mengkooptasi ekonomi mikro dan kecil. Di sini, a party’s profit bukan lagi tujuan utama dan sudah harus dibuang jauh-jauh. Paradigma yang dibangun adalah  common prosperous atau sejahtera bersama-sama. Di sini usaha mikro, kecil dan usaha-usaha khas rakyat akan berkolaborasi dengan usaha yang dilakukan oleh korporasi besar. Jadi bukan untuk saling menikam atau bertarung melainkan bersolidaritas dan bersama-sama dalam mengisi rantai pasok dunia (global supply chain). Asumsinya sederhana saja, perusahaan besar memiliki hal-hal yang dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha mikro dan kecil. Konsekuensinya, strategi usaha harus dibuat sedemikian untuk berdampak pada meningkatnya kapasitas usaha si mikro dan kecil yang meliputi beberapa hal.

Pertama adalah kuantitas. Kuatitas ini menjadi salah satu ciri lemah dari usaha mikro dan kecil. Seringkali ketika ada demand mereka tidak bisa memenuhinya dengan baik karena tidak dapat menyediakan dalam jumlah yang dipersyaratkan. Kedua,  adalah kualitas. Krakteristik berikutnya dari usaha mikro dan kecil adalah lemahnya kontrol kualitas atas produk dan jasa yang mereka hasilkan. Perusahaan yang besar perlu memperhatikan hal ini dalam solidaritas rantai pasok ekonomi. Ketiga, sektor UMKM memiliki daya serap tenaga kerja yang cukup tinggi. Ini merupakan potensi. Masalahnya adalah tenaga kerja yang bekerja di sektor UMKM rata-rata ber-SDM rendah, tidak unggul dan kurang kompetitif. Ini harus menjadi fokus perhatian perusahaan besar sehingga bisa memasok produk yang berkualitas.

Berikutnya adalah kemampuan manajemen. Usaha mikro dan kecil selalu lekat dengan stigma menejemen yang lemah, kelola yang sporadis dan ala kadarnya, sehingga karenanya tidak sustainable dalam pengelolaan bisnisnya. Padahal menejemen ini merupakan salah satu kunci utama dari  kewirausahaan. Usaha yang kompetitif dan berkelanjutan memerlukan tata kelola yang baik, memerlukan perencanaan yang baik, memerlukan forecast yang baik pula atas usahanya di masa mendatang.

Dalam perspektif solidaritas, bila si besar ingin memberdayakan si mikro dan si kecil karena mereka merupakan bagian dari satu kesatuan rantai pasok dunia, maka perusahaan besar perlu memberikan fokus yang lebih untuk meningkatkan kapasitas dari bisnis UMKM. Perusahaan besar perlu melakukan effort lebih untuk memberdayakan UMKM agar mereka memiliki tata kelola yang lebih baik dalam bisnisnya. Semakin baik tata kelola sebuah UMKM maka akan semakin berkualitas pula produk dan jasa yang mereka hasilkan. Semakin tinggi kualitas maka akan semakin berkualitas pula rantai pasok dunia. Dan pada akhirnya, common prosperous bukan sesuatu yang sekedar isapan jempol saja.

Perusahaan besar perlu bekerja sama dengan pihak lainnya dalam upaya untuk meningkatkan menejemen UMKM. Salah satunya, bisa dilakukan dengan menggandeng lembaga penyedia layanan bisnis atau Business Development Service Provider atau BDSP.

BMU Nusantara merupakan salah satu lembaga penyedia layanan bisnis yang memiliki pengalaman di banyak tempat di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Sejumlah organisasi dan badan internasional telah tercatat sebagai kolaborator dalam menjalankan usaha pengembangan UMKM di Indonesia. Demikian juga, BMU Nusantara juga telah mentorehkan kemitraan dengan beberapa perusahaan besar seperti Danone, Allianz dan perusahaan property dalam mengimplementasikan program CSR maupun program-program peningkatan kapasitas UMKM.

Kembali pada frasa yang dikutip di awal tulisan ini, BMU Nusantara ingin berjalan bersama-sama dengan Anda, walau tidak cepat tetapi bisa mencapai seuatu yang besar dan ideal, yakni UMKM menjadi bagian yamg setara dan berdaya dalam rantai pasok dunia.

Mari bermitra, mari bersolidaritas, mari berkolaborasi, demi Nusantara yang digdaya!

 

Tim Pewarta BMU Nusantara

admin

Bina Mitra Usaha Nusantara - Business Development Services Provider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.