01 Jul

Lebaran, THR dan Keuangan Kita

Ramadhan sudah memasuki minggu terakhir. Lebaran pun sudah semakin di depan mata. Bagi yang merayakannya, tentu lebaran menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu. Bukan saja karena akan menjadi hari kemenangan setelah satu bulan menjalankan puasa, mealinkan juga karena akan bertemu dengan sanak keluarga dan kolega untuk saling bertegur sapa dan memaafkan satu sama lainnya. Untuk melakukannya, sebagian kita terkadang harus merogoh kocek yang lebih karena harus pulang ke tanah kelahiran kita atau keluarga besar kita yang mungkin jauh dari tanah domisili. Bahkan, teman saya setiap lebaran harus mudik dari Abu Dhabi ke Bandung. Coba hitung, berapa digit yang ia keluarkan untuk mewujudkan niat mulianya: meminta maaf atas alfa dan menuntaskan rindu abadi pada sanak keluarga.

Masyatakat Nusantara ini memang punya budaya yang luhur dalam silaturahmi. Mereka bahkan rela mempertaruhkan segalanya demi merealisasikannya. Harta mereka kuras demi sebuah dahaga rindu. Nyawa pun mereka pertaruhkan demi setulus maaf.

Kondisi ini hampir tidak dijumpai di jazirah tempat kelahiran Islam. Iedul Fitri biasa aja tuh di sana. nothing special.  Bandingkan dengan kita, mulai dari baju yang baru, aneka makanan dan jajanan yang dipersiapkan sebulan sebelumnya, angpao yang harus kita sematkan sebagai ekspresi syukur untuk tahaddus bin ni’mah atas rejeki yang Tuhan titipkan kepada kita, dan seterusnya.

Mungkin cuma di negara kita dimana pemerintah hingga harus turun tangan untuk merespons tingginya kebutuhan lebaran ini dengan menetapkan kewajiban tunjangan hari raya (THR) bagi pemberi kerja kepada pekerjanya. Bahkan berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja yang baru, THR sudah menjadi hak bagi orang yang baru bekerja satu bulan.

THR hampir tidak dijumpai di negara-negara lain. Bisa dianggap, THR ini merupakan kepekaan pemerintah Indonesia atas budaya yang sudah turun menurun di bangsa ini.

Terkait budaya ini, ada cuplikan percakapan yang menarik antara ibu dan anak dalam sebuah iklan yang tayang di TV selama Ramadhan ini. “Perasaan rindumu itu sudah melebihi apapun yang aku butuhkan,  jawab sang ibu atas pemintaan maaf sang anak yang mengaku belum mempersembahkan sesuatu yang berarti bagi sang ibu.

Adakah sesuatu yang lebih indah dan mengharu biru di alam semesta ini selain rindu?

Masyarakat kita tidak matre, bahkan bisa dikatakan sebagai masyarakat yang sederhana dan nrimo ing pandum kata orang Jawa atau menerima apa adanya. Tetapi THR tetap saja dibutuhkan. Kenapa? Karena untuk menuntaskan “misi rindu” ini tidak saja dibutuhkan kenekadan ala dongeng-dongeng cinta yang hanya modal keberanian, tetapi juga ada dana sebagai katalisnya.

Sudah dapat THR, bahkan sudah menabung berbulan-bulan sebelum lebaran, kenapa dana kita selalu tidak cukup ketika lebaran?

Ini pertanyaan menarik. Ini persoalan setiap orang. Jawabnya sederhana: kita butuh pengelolaan keuangan!

Betul sekali. Tidak peduli seorang Presiden Amerika Serikat hingga ketua RT, seorang Gubernur Bank Indonesia hingga pemungut bayaran hutang harian ala bank thithil (tukang kredit), mulai dari boss the Washington Post hingga tukang pos keliling, mulai dari motivator sekelas Mario Teguh hingga Bambang Teguh Sulistyo yang desiner grafis partikelir itu, mulai dari para petinggi Adi Karya hingga Adi Nugraha dan Adi Sunardi, mulai Jimmy Hendrix sang gitaris legenda hingga Jimmy Febriyadi yang akan menjadi fasilitator legendaris dari tanah Pasundan itu, semuanya perlu yang namanya pengelolaan keuangan. Titik.

FE

Pengelolaan adalah kebutuhan kita semua. Apalagi di momen “kritis saldo” seperti lebaran. Pengelolaan keuangan merupakan sesuatu yang wajib bin harus bin must bin keudah bin kudu.

Bagaimana cara melakukannya?

Sederhana saja. Intinya ada pencatatan semua pemasukan dan proyeksi pengeluaran dan pengeluaran aktual dengan memastikan tetap ada saldo. Simple kan?

Dalam membuat proyeksi pengeluaran lebaran, buatlah list kebutuhan. Lalu buatlah skala prioritas. Yang “paling mendesak’ dan yang “paling harus”-lah yang kudu kita prioritaskan.

Harus bisa menahan sesuatu yang sebenarnya sekedar keinginan. Misalnya ada teman di sini yang menahan keinginan mengganti hape Samsung tuanya dengan Xiaomi. Ya, padahal Samsungnya sudah bulukan dan Xiaomi hanyalah hape Cina yang murah. Lalu ada teman lainnya yang Apple maniac ingin mengganti Apple watch-nya dengan apple watch yang edisi customised-limited yang berlapis emas 29 karat dan berlian. Ia tahan keinginannya karena ia harus mewujudkan THR 203 karyawannya. Teman lainnya, ia hobi berpetualang mulai dari sepeda gunung hingga makam ke makam. Agak mistis memang teman yang ini. Ia sejak dulu pengin kamera GoPro. Bahkan ia sudah memesan pada teman yang kerja di Abu Dhabi. Tapi ia harus menahan keinginannya untuk sementara waktu. Kebutuhan lebaran lebih penting bagi orang-orang yang dicontohkan di atas, karena kebutuhan lebaran adalah sesuatu yang mendesak.

Bagaimanakah dengan rencana lebaran kamu? Siapkan catatan keuangan ya :)

Tim Pewarta BMU Nusantara

admin

Bina Mitra Usaha Nusantara - Business Development Services Provider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.