21 Sep

Fasilitasi dan Pendulang Suara

Seorang rekan kerja memberikan tantangan kepada saya. Ia meminta saya untuk membantu pemenangan Pilkada seorang calon Bupati. Saya kaget tak kepalang. Ini tidak pernah terpikir dalam benak saya. Saya tidak memiliki latar belakang apapun dalam hal ini. Berhadapan dengan segelintir orang saja masih pengalaman baru, apalagi membantu pemenangan Pilkada yang tentu akan berhadapan dengan banyak orang. Kan pendekatan Pilkada adalah mendulang suara sebanyak-banyaknya .

img-20150902-wa0010

Kebetulan tempatnya di sebuah Kabupaten di ujung Sumatera yang mengharuskan saya melewati Selat Sunda, tepatnya di Lampung. Saya tadinya tidak yakin sama sekali bisa take a part dalam tantangan ini. Si rekan kerja tersebut membisikkan bahwa tugas saya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat pemilih. Nah… semakin gelap kan? Aku mah apa atuh, hanya tahu dunia pelatihan, itu pun masih baru beberapa belas bulan, dan baru beberapa tema pelatihan yang saya kuasai. Setelah si Rekan tersebut menerangkan lebih lanjut bahwa tugas saya adalah memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat pemilih, lalu saya ambil tawaran tersebut! Ini gile…bagi saya .

Berbekal dengan keyakinan plus sedikit keraguan, kemudian saya berangkat ke Pulau Sumatra dengan kapal penyeberangan. Sepanjang perjalanan pergumulan batin kian tak terelakkan. Tapi sebisa mungkin saya coba menghibur diri. Bisalaaah… Gumam dalam hati.

Sesampai di lokasi, hati langsung ciut karena masyarakat yang saya hadapi, meskipun di Lampung, mayoritas mereka berbahasa Jawa, bahasa yang saya tidak menguasainya.
Saya seorang newbie atau pendatang baru di dunia kepelatihan, fasilitasi dan pendampingan. Bila dihitung jam terbang, tentu saya bukan siapa-siapa dibandingkan dengan pelatih profesional dan
pendamping masyarakat ala LSM (tentu LSM yang sejati ya, bukan LSM yang abal-abal yang di Plang Nama sektretariatnya ditulisi LSM bla…bla…bla…).

Sebagai pendatang baru, saya seringkali merasa grogi atau kadang minder bila berkesempatan berbicara di depan banyak orang. Tetapi mau gimana lagi. Ini sudah jadi pilihan profesi untuk masa depan saya. Juga untuk putri cantik yang akan sudi jadi pendamping saya suatu saat nanti (saya belum kebayang euy siapa yang mau).

Berbekal pengalaman memfasilitasi beberapa belas pelatihan dan juga pendampingan masyarakat di beberapa tempat antara lain di Kapuk Muara (Jakarta – yang sekarang lagi ramai jadi perdebatan politik), Subang dan Bogor (Jawa Barat), saya memberanikan diri ketika ada tantangan yang sebenarnya sulit bagi saya saat itu.

Saya masih separoh-paroh, antara yakin dan tidak. Tantangannya berat sekali, yakni memberikan pelatihan kepada masyarakat dalam rangak mensosialisasikan pencalonan seorang Calon Bupati! Ini sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh saya.

Dalam hati, selain engga yakin, saya juga ingin menolak karena tidak memiliki kapasitas dalam kancah perpolitikan. Tetapi, semakin saya bergeming, semakin saya diyakinkan oleh beberapa kawan yang intinya adalah ini kesempatan langka dan bagus. Langka karena jarang ada politisi yang mau melakukanhal-hal yang edukatif bagi masyarakat. Biasanya mereka hanya peduli dengan suara dan suara. Tak peduli dengan cara-cara kotor sekalipun.

Kita sudah sering dengar jual beli suara tiap kali ada event pilkada atau pileg. Dibilang kesempatan bagus karena saya akan menambah jam terbang dalam memfasilitasi masyarakat dan memperdalam materi pelatihan serta mengasah ketrampilan sebagai fasilitator. Klop bingit kan?

Di dalam hati sebelum sampai sangat bergejolak, apa yang saya harus lakukan, bagaimana nanti jika ada persoalan, bagaimana mengatasinya? Itu sebagian demam fikiran yang terbesit didalam benak ini. Tak kalah akal dan berbekal saran dari teman sejawat yang sering memberikan motivasi, saya berinisiatif menulis beberapa langkah yang terbayangkan apa yang akan saya sampaikan nanti. Tulisannya pun acakadut bin tidak beraturan, karna yang tersirat dalam benak, itulah yang dituangkan didalam catatan harian tersebut.

Pergulatan alam fikir semakin seru. Mulai dari apa yang harus saya sampaikan, apa yang harus saya siapkan, apa saja kira-kira kendala yang akan saya hadapi, dan seterusnya. Saya juga mulai menginventarisir metode games dan energizer yang kira-kira bisa efektif untuk mencairkan suasana. Saya persiapkan sebaik mungkin hingga kalimat-kalimat apa saja yang harus saya ucapkan sebelum energizer, dengan harapan tidak melebar kemana-mana dan tidak kikuk saat nanti memberikan instruksi energizer.

Berbekal dari persiapan yang sangat mendasar tersebut, saya kemudian melakukan koordinasi dengan pihak-pihak lain yang bertanggung jawab mempersiapkan acara edukasi keuangan keluarga bagi voters (istilah keren yang saya baru kenal di lokasi Pilkada. Saya memang sudah mengalami beberapa peristiwa Pemilu, tapi baru kali ini denger istilah voters, tadinya hanya tahu istilah pemilih. Ternyata cuma masalah Bahasa aja, English versus Bahasa Indonesia…hehehe…). Saya juga berkoordinasi dengan mereka terkait dengan teknis pelaksanaan kegiatan. Yeayyyy…! Tantangan baru itu segera akan dimulai!!

Kami dalam beberapa peristiwa koordinasi tersebut lalu merencanakan untuk menyampaikan edukasi mengenai “Pengelolaan Keuangan Keluarga” dan “Kewirausahaan” bagi masyarakat Lampung Timur yang akan menjadi voters. Selain untuk tujuan vote gathering  atau mendulang suara, kegiatan ini benar-benar ditujukan untuk awareness raising bagi masyarakat sehingga mampu mengelola pendapatan dan keuangan keluarga. Juga untuk mendiseminasi pengetahuan mengenai berwirausaha.

Kekagetan belum berakhir di sini. Dari panitia lokal, saya kemudian tahu bahwa beban saya ternyata terlampau berat. Saya diharapkan bisa melakukan pelatihan selama 1 bulan dengan total desa yang musti dijangkau 50 desa! Ini gila menurut saya. Artinya saya harus stay di Lampung Timur selama satu bulan dan setiap hari harus mobile dari desa ke desa. Ini berat sekaligus asyik. Berat karena saya tidak bisa beraktivitas lain dan karenanya harus menata ulang komitmen dengan pihak-pihak lain, tetapi juga asyik karena ini sama sekali hal baru bagi saya: berinteraksi dengan masyarakat secara intensif dan ekstensif!

Hari demi hari aku lalui, desa demi desa aku lampui. Kami berusaha sebaik mungkin untuk mencapai keluaran (output) yang diharapkan. Memang sih, ada saja kendala yang datang tetapi kami tetap maju terus untuk menghasilkan yang terbaik, khususnya bagi masyarakat di Lampung Timur. Mungkin kami berbagi pengetahuan kepada masyarakat di pedesaan di Lampung Timur, tetapi sesungguhnya kami juga mendapatkan banyak pembelajaran yang sangat berharga.

Akhirnya, wow….amazing! Dalam durasi kurang lebih 1 bulan kami bisa menjangkau 55 Desa dengan jumlah total peserta 1.496 orang (peserta laki-laki 17 orang dan perempuan 1479 orang) untuk edukasi Pengelolaan Keuangan Keluarga saja. Sedangkan untuk edukasi kewirausahaan, kami lakukan dalam kurun waktu 15 hari dengan estafet dari desa ke desa. Edukasi kewirausahaan ini telah menjangkau kurang lebih 750 orang (haha…saking asyiknya, saya lupa jumlah total persisnya, karena setiap desa berbeda-beda jumlah. Ini langsung memecahkan rekor saya sebelumnya dalam pelatihan Pengelolaan Keuangan Keluarga dan Kewirausahaan, yakni masing-masing berjumlah 65 orang dan 40 orang!

Yang lebih mengejutkan lagi adalah hasilnya. Calon Bupati yang saya dukung melalui gerakan literasi keuangan keluarga dan edukasi kewirausahaan tersebut menang mutlak dalam Pilkada!

Dengan tidak bermaksud jumawa, saya ingin mengatakan bahwa politik itu bukan sesuatu yang melulu menyebalkan. Ia juga bisa jadi sarana beribadah. Nyatanya, dengan menawarkan sesuatu yang edukatif, bermanfaat dan memberdayakan calon Kepala Daerah yang kami dukung bisa menang. Tentu saja yang saya lakukan hanya bagian kecil dari keseluruhan strategi perolehan suara. Tetapi yang pasti, di desa-desa yang kami lakukan pelatihan-pelatihan tersebut suara kami menang.

Berbagi kali ini hanya sebuah awal untuk mencapai cita-cita untuk menggapai impian yang sempurna. Saya yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk mencapai mimpi. Tentu apa yang saya lakukan ini masih banyak kekurangannya. Kami sangat berharap bisa mendapatkan masukan-masukan yang berarti.

Tapi dari peristiwa ini, kami belajar bahwa kegiatan politik sebenarnya tidak harus selalu diselesaikan dengan cara kotor seperti bagi-bagi uang, misalnya. Nyatanya, dalam Pilkada yang kami terlibat di dalam strategi pemenangan tersebut, memberikan edukasi dan pemberdayaan juga terbukti bisa merebut hati masyarakat pemilih.

Kerja-kerja politik sudah semestinya merupakan kerja-kerja pemberdayaan. Wassalam.

 

Adi Nugraha,

Penulis yang masih newbie dalam kegiatan fasilitasi pemberdayaan masyarakat dan tidak segan belajar dan terus belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.