19 Apr

6 Topi Berpikir dalam Fasilitasi

six thinking hatsBanyak orang sukses berpikir dari sudut pandang yang positif dan sangat rasional. Namun, terkadang mereka gagal untuk melihat suatu permasalahan yang bersifat emosional, intuitif, sudut pandang kreatif ataupun negatif. Hal ini terjadi karena mereka mengabaikan kekuatan sebuah perencanaan; gagal membuat lompatan kreatif dan tidak membuat perencanaan terhadap hal-hal lain yang juga penting.

Demikian juga yang terjadi dengan orang yang pesimis; mereka terkadang terlalu defensif, dan orang-orang yang emosional juga gagal untuk membuat keputusan dengan tenang dan rasional. Emosi dan perasaan memainkan peranan penting dalam berpikir. Yang harus dilakukan bukan menyingkirkannya, melainkan menggunakannya pada saat yang tepat.

Jika kita melihat suatu permasalahan dengan teknik ‘Enam Topi Berpikir’ (De Bono, 1985), kita dapat melihat suatu permasalahan dengan menggunakan semua pendekatan. Keputusan dan rencana yang kita buat akan menggabungkan ambisi, keterampilan dalam mengeksekusi, sensitivitas publik, kreatifitas dan rencana terhadap segala kemungkinan dengan baik.

Bagaimana cara mengaplikasikannya?

Kita dapat menggunakan teknik Topi Berpikir dalam suatu pertemuan atau untuk keperluan kita sendiri. Dalam pertemuan, teknik ini bermanfaat untuk mengatasi konfrontasi yang terjadi ketika orang-orang dengan gaya berpikir yang berbeda-beda mendiskusikan masalah yang sama. Masing-masing “Topi Berpikir” merupakan sebuah gaya berpikir yang berbeda. Masing-masing warna merepresentasikan satu kegiatan berpikir.

  1. TOPI PUTIH (informasi)
    Dengan teknik ini, kita hanya fokus pada data yang tersedia; melihat informasi yang ada, dan apa yang dapat pelajari dari sini. Cobalah untuk melihat gap dalam pengetahuan yang kita miliki; mengisinya atau mempertimbangkannya. Fokus Topi Putih adalah pada informasi yang ada. Informasi sangat penting untuk berpikir; jadi dalam hal ini, kemampuan berfokus pada informasi jika kita berperan dengan topi putih.
    Dalam fasilitasi, seorang fasilitator dapat ‘menggunakan’ topi putih ketika hanya ingin fokus pada proses
    menggali informasi dari peserta.
  2. TOPI MERAH (emosi/intuisi)
    Dengan ‘menggunakan’ topi merah, kita mencoba melihat permasalahan dengan intuisi, reaksi keberanian dan emosi. Cobalah untuk berpikir bagaimana orang lain akan bereaksi secara emosional. Dalam hal ini, kita mencoba memahami respon orang-orang yang tidak benar-benar memahami suatu argumen dengan menggunakan perasaan. Perasaan sangat berharga selama kita selalu menyadari bahwa itu adalah perasaan. Masalah akan muncul jika kita berpura-pura dan seolah-olah itu bukan perasaan. Topi Merah memberi label yang jelas untuk itu.Dalam memfasilitasi suatu pertemuan, fasilitator dapat memerankan dirinya dengan menggunakan topi merah untuk fokus pada apa yang dirasakan oleh peserta; berempati untuk pada apa yang mereka hadapi atau alami.
  3. TOPI HITAM (negatif)
    Dengan ‘menggunakan’ jenis topi ini, kita mencoba untuk melihat semua kemungkinan-kemungkinan buruk dari suatu keputusan yang akan diambil. Cobalah untuk melihat poin-poin tersebut dengan rasa penasaran dan secara defensif; Cobalah untuk memikirkan mengapa keputusan tersebut bisa mungkin tidak berjalan dengan baik.Hal ini penting karena menyoroti kemungkinan-kemungkinan buruk dalam suatu rencana. Cara ini memungkinkan kita untuk mengeliminasi, mengubah, atau mempersiapkan rencana terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi untuk membuat rencana bandingan.

    Dalam fasilitasi, teknik topi hitam ini membantu fasilitator untuk membuat
    rencana proses yang ‘lebih kuat’. Topi ini akan membantu anda untuk melihat kekurangan dan resiko yang mungkin terjadi sebelum anda memulai serangkaian rencana anda. Jenis topi ini merupakan salah satu manfaat yang nyata dari teknik ini agar terbiasa untuk berpikir positif; terkadang kita lupa untuk mempertimbangkan permasalahan yang mungkin terjadi agar lebih siap menghadapi kesulitan-kesulitan yang tak terduga.
     
  4. TOPI KUNING (positif)
    Topi kuning membantu kita untuk berpikir positif; sudut pandang positif yang membantu kita untuk melihat semua manfaat dan nilai keputusan yang terkandung didalamnya. Teknik ini membantu kita untuk tetap on track ketika segala sesuatunya tampak suram dan sulit.Topi berpikir warna kuning penuh optimisme dan penuh harapan. Sebagai fasilitator, selain netral, kita dituntut untuk berpikir positif terhadap semua kemungkinan dalam proses fasilitasi dan percaya pada potensi kelompok. 
  5. TOPI HIJAU (kreatifitas)
    Teknik topi hijau merupakan representasi dari kreatifitas. Topi ini kita dapat ‘gunakan’ ketika kita harus mengembangkan solusi kreatif terhadap suatu permasalahan. Teknik ini merupakan cara berpikir bebas dimana sedikit kritik terhadap ide-ide. Serangkaian tools kreatifitas dapat membantu kita disini.Dalam kegiatan fasilitasi, topi hijau direpresentasikan dalam teknik curah pendapat (brainstorming) untuk menggali ide-ide kelompok sebanyak-banyaknya tanpa dibatasi. Biasanya, peran topi hijau digunakan dalam proses divergensi.
  6. TOPI BIRU(proses)
    Topi biru identik dengan kontrol proses; topi ini digunakan dalam pertemuan yang mengalami stagnansi karena ide cenderung kering/basi/tidak menarik. Jika rencana terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi diperlukan, teknik ini dapat diperankan. Sama halnya dalam proses fasilitasi, topi biru diperankan dalam mengelola dan mengontrol proses. 

POIN PENTING:

Keenam teknik ini merupakan teknik untuk melihat pengaruh dari suatu keputusan dari sejumlah sudut pandang yang berbeda. informasi. Dalam memfasilitasi suatu pertemuan, TOPI PUTIH digunakan ketika kita ingin membentangkan semua informasi yang disampaikan oleh kelompok; TOPI MERAH ketika ingin fokus pada apa yang dirasakan oleh kelompok; TOPI HITAM digunakan ketika ingin menggali lebih dalam kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi agar rencana yang dibuat oleh kelompok menjadi lebih kuat; TOPI KUNING fokus pada hal-hal positif yang ada dalam proses kelompok (appreciative inquiry); TOPI HIJAU ketika fasilitator menginginkan adanya partisipasi kelompok seluas-luasnya; dan TOPI BIRU  mengontrol proses dan mengarahkan pemakaian topi lainnya ketika dibutuhkan.

Selamat Berlatih!

Yudi Utomo

A Training Designer and Social Enterprise Enthusiast @BMUNusantara

2 thoughts on “6 Topi Berpikir dalam Fasilitasi

  1. Yudi Utomo

    Alhamdulillah kalau tulisan tersebut bermanfaat, Mbak Yayuk. :)
    gimana kabar pendampingan Batu? Lancar?
    Kalau mau berbagi tulisan atau pengalaman pendampingan, monggo mbak yayuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.