15 Mar

Memanjangkan Telinga Partisipan

Human ear

Ada fasilitator yang hobi pakai mic (microphone), meski partisipannya kurang dari 40 orang. Katanya, supaya suaranya terdengar jelas.

Untuk sementara waktu, khususnya di awal percakapan, penggunaan mic memang membantu. Sewaktu kita menjelaskan tujuan dan tahapan pertemuan, suara yang keras dan jelas akan memudahkan partisipan memahami rencana percakapan sehingga dapat lebih mudah mengikuti proses selanjutnya.

Read More

15 Mar

Teknik Dasar: Mimicking

DSC_9057Yang dimaksud dengan mimicking di sini adalah teknik untuk menyelaraskan komunikasi nonverbal kita dengan lawan bicara. Bukan meniru-niru wajah, intonasi, gerak tangan dan lain-lain untuk mengejek lawan bicara. Tapi, dalam rangka menghargai dan menunjukkan kita memperhatikan bahkan mendalami dan meresapi pembicaraannya.

Dalam komunikasi berlaku hukum timbal balik. Kalau Anda ingin didengarkan orang, maka dengarkanlah baik-baik lawan bicara Anda. Kalau Anda ingin diperhatikan, maka perhatikanlah lawan bicara Anda.

Nah, mimicking berupaya untuk menunjukkan perhatian kita pada lawan bicara dengan menyelaraskan diri kita dengan lawan bicara. Kalau seorang ibu bicara dengan penuh keriangan atau kegembiraan, maka gembirakan hati Anda dan tunjukkan itu melalui mata, suara, mimik, gerak tangan, dan lainnya. Bila berhasil melakukan penyelarasan itu, maka Si Ibu juga akan menjadi semakin senang bercerita dan kemudian pada gilirannya, dia akan menjadi pendengar yang baik bagi Anda.

www.lapangankecil.org

15 Mar

Teknik Dasar: Menggunakan Nama Partisipan

whats-my-nameNama bukanlah sekedar nama. Nama bukan hanya identitas. Orang diberi nama oleh orang tuanya dengan maksud-maksud yang baik. Nama menunjukkan perasaan kasih sayang, kesenangan, harapan, mimpi atau do’a. Menyebut nama ketika memanggil/ menyebut/ mengajak seseorang membuat orang yang dipanggil itu merasa “hadir” dan dihargai. Karenanya, fasilitator harus selalu menyebut seorang ibu lengkap dengan nama (yang disukainya). Hindari memanggil hanya dengan sebutan ibu (tanpa nama) atau malah menyebut ciri-ciri, seperti tolong ibu yang pakai baju biru ini…. Hindari pula hanya menyebut sebagian ibu dengan nama, sementara yang lainnya tidak, karena ini dapat memunculkan kecemburuan.

Cara mudah menghapal nama adalah menggunakannya segera dan berulang kali dalam percakapan. Sambil mengucapkan namanya, hapalkan pula ciri-cirinya. Berikut ini adalah contoh praktis yang dapat dipraktikkan fasilitator.

Read More

15 Mar

Fasilitator dan Peneliti Kuantitatif

Layout 1Ada kawan fasilitator yang baru saja membantu FGDs (Focus Group of Discussions) tentang kehidupan mantan pengungsi di Sulawesi. Dia bergabung bersama peneliti lain, yang sebagian adalah peneliti kuantitatif.

Mendengar ceritanya, kami menangkap gaya pengumpulan data yang berbeda, yang sebetulnya bersumber dari perbedaan paradigmatik. Secara sederhana, saya melihat peneliti kuantitatif yang dia ceritakan terpaku pada panduan dalam bertanya. Dan memang, kalau kita bicara studi kuantitatif, maka yang menjadi alat penelitian adalah kuesioner. Pertanyaan dibaca seperti tertulis dalam kuesioner. Tidak ditambah dan tidak juga dikurangi. Bahkan intonasi suara pun diatur agar terdengar netral. Begitu juga dengan mimik wajah, gerak tubuh dsb. Semuanya mesti netral dan juga berjarak  agar interaksi tidak saling mempengaruhi.

Sementara, mereka yang terbiasa menjadi fasilitator lebih menggunakan pendekatan kualitatif. Di sini, yang disebut sebagai alat penelitian, utamanya, adalah si peneliti itu sendiri. Dia tidak terpaku pada panduan. Tapi berorientasi untuk mengikuti dan memahami cerita yang mengalir dari narasumber. Seorang fasilitator, dengan segenap bahasa verbal dan non verbal berusaha memotivasi narasumber untuk bercerita. Fasilitator pun terlatih untuk menikmati cerita narasumber, merasakan emosinya dan membangun imajinasi dari cerita-cerita. Dalam bertanya, fasilitator akan mengikuti cerita dan mendengarkan secara aktif.

Read More

15 Mar

Aplikasi Pertanyaan Grandtour & Minitour

Serius - ToT Aceh2Ada saat di mana lebih baik topik diskusi berasal dari kelompok warga sendiri, ketimbang dihadirkan oleh fasilitator. Harapannya, rasa memiliki partisipan terhadap hasil kesepakatan menjadi lebih kuat.

Membantu warga memunculkan topik yang sesuai dengan topik program dapat dilakukan dengan menggunakan teknik Tur Besar dan Tur Kecil. Bandingkan dua dialog di bawah.

Dialog #1

Fasilitator:

Ibu-ibu, hari ini kita akan bicara tentang diare. Ibu, tahu diare itu apa? Siapa yang bisa jawab, hayo?

Sebagian ibu-ibu:

(dalam hati) yah kok tentang diare sih…? Hmm, tugasnyadari kantor memang diare sih ya

Dialog #2

Read More

15 Mar

Diskusi Kelompok: Antara Jumlah Kelompok, Keberanian & Waktu

pendampinganDalam sesi latihan, semisal ketika partisipan workshop diminta memberi salam, mengenalkan diri, asal lembaga/ daerah dan harapan, biasanya kami membatasi waktunya hanya sekitar 1 menit. Tidak lebih dari satu menit, semua hal sudah tersampaikan.

Kadang kala ada partisipan yang memberi masukan, cepat sekali waktunya….

Menanggapi masukan partisipan, biasanya kami menjelaskan konsep tentang remote control TV dan bagaimana orang menggunakannya.

Read More

15 Mar

Remote Control dalam Pikiran Orang

remote-control-history-1Dalam sessi latihan, semisal ketika partisipan workshop diminta memberi salam, mengenalkan diri, asal lembaga/ daerah dan harapan, biasanya kami membatasi waktunya hanya sekitar 1 menit. Tidak lebih dari satu menit, semua hal sudah tersampaikan.

Kadang kala ada partisipan yang memberi masukan, cepat sekali waktunya….

Menanggapi masukan partisipan, biasanya kami menjelaskan konsep tentang remote control TV dan bagaimana orang menggunakannya.

Read More

15 Mar

Mulai Dengan Pertanyaan Yang Mudah

Dalam memfasilitasi diskusi ibu-ibu di kampung, mulailah dengan pertanyaan yang mudah ditanggapi oleh partisipan. Pertanyaan yang mudah ditanggapi partisipan tanpa harus berpikir panjang. Memulai dengan pertanyaaan yang mudah nantinya akan membangun keberanian ibu-ibu untuk berpendapat secara bertanggung jawab.

Fasilitator dapat melempar pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman yang baru-baru saja dialami atau yang menyangkut keseharian ibu-ibu atau pertanyaan pengamatan keseharian. Contoh pertanyaan-pertanyaan itu adalah sbb:

  • Boleh cerita, pagi tadi ibu-ibu masak apa ya?
  • Biasanya, ibu-ibu di sini belanjanya ke mana ya?
  • Sayuran apa saja yang ada di pasar?
  • Apa makanan kesukaan anak kita?

Yang tergolong pertanyaan sulit dijawab sebaiknya diletakkan belakangan. Ibu-ibu umumnya menjadi mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit ketika ibu-ibu sudah lancar bercerita (sudah panas). Contoh pertanyaan sulit adalah sbb (contoh dari Fakih, dkk; 2001):

•         Pertanyaan analisis: Mengapa perbedaan pendapat itu terjadi?

•         Pertanyaan hipotetik: Apa yang terjadi jika…?

•         Pertanyaan pembanding: Mana yang paling tepat antar….dan…?

•         Pertanyaan proyektif: Coba bayangkan seandainya Ibu menghadapi situasi seperti itu, apa yang anda lakukan?

Tentu saja, pertanyaan mudah bukan berarti tidak relevan. Pertanyaan yang mudah itu tetap mesti masuk dalam skema pertanyaan yang menjadi topik diskusi.